Home / Indotimnews / 72 Tahun Transformasi BIN Era Millenial, Pengamat ; Insan intelijen harus menjunjung tinggi norma Hukum dan Moral

72 Tahun Transformasi BIN Era Millenial, Pengamat ; Insan intelijen harus menjunjung tinggi norma Hukum dan Moral

Jakarta– Dirgahayu Badan Intelijen Negara yang diperingati setiap tanggal 7 mei kemarin adalah momentum bagi lembaga vital bangsa tersebut untuk terus berbenah dan profesional . (8/5) Selasa.

” Jayalah Badan Intelijen Negara. Jayalah Negara Kesatuan Republik Indonesia “.

” Kecepatan dan ketepatan bertindak, mendahului pihak lawan untuk mencegah timbulnya damage, merupakan kondisi kedaruratan,” ujar Muhammad Ichsan, Forum Sejarah Damai Resolusi Konflik (FSDRK), dalam rilisnya, Rabu (9/5/18).

Menurut Pegiat muda Resolusi Konflik tersebut kepada media, Era millenial ini, Transformasi Badan Intelijen harus memiliki norma hukum dan moral yang dikaitkan dengan sikap batin sebagai individu Pancasilais yang otonom

“Perang masa kini, sudah melampaui perang konvensional teritorial yang nyata, dan telah merambah kepada perang non konvensional non fisik dan meta fisik,” terangnya.

Aktor pemainnya lanjut Ichsan, telah bergeser dari militer sebagai state actor, menjadi non-state actor melalui penggalangan opini oleh LSM, media dan infiltrasi ideologi.

“Insan intelijen harus menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokrasi dan supremasi hukum, dalam membela nusa, bangsa dan bahasa, laksana angin yang berembus, mengisi setiap ruang di dunia,” harapnya.

Peran dan fungsi intelijen diharapkan akan dapat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman terorisme, radikalisme, fundamentalisme, proxy war dan cyber war, serta persaingan dalam penguasaan sumber energi dan pangan secara langsung maupun tidak langsung yang akan sangat berpengaruh terhadap situasi dan kondisi nasional.

“Kecepatan dan ketepatan (velox et exactus) adalah semboyan intelijen. Kecepatan dan ketepatan diperlukan dalam mengassess berbagai kemungkinan cara bertindak, yang meliputi fungsi penyelidikan (detection), pengamanan (security) baik melalui kamuflase dan kontra intelijen, atau penggalangan (conditioning) melalui perang pskologis atau perang urat syaraf,” tambahnya.

Dakui, pengguna (user) intelijen adalah Negara Republik Indonesia untuk mencapai tujuan bernegara yakni melindungi segenap bangsa Indonesia, yang menempatkan Pemerintahan negara Republik Indonesia yang demokratis sebagai subjek, serta tegaknya keamanan dan ketertiban dan keselamatan negara bangsa, di tengah dinamika lingkungan strategis global, regional dan nasional dalam pusaran tarik menarik, asimetris dan inkonvensional. [MI]

loading...