Ada Tekanan di Kubu Bamban Widjojanto

oleh -94 views

20150204_08_14_04Indotimnews.com–Proses pemeriksaan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, sebagai tersangka kasus dugaan mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu dalam sidang sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi pada 2010, di Badan Reserse Kriminal Polri ternyata tak semulus yang dibayangkan.

Menurut penuturan langsung dari Bambang maupun tim kuasa hukumnya mereka merasa pihak Polri mempersulit dan mengintimidasi mereka selama proses pemeriksaan kemarin.

Menurut salah satu kuasa hukum Bambang, Saor Siagian, upaya-upaya pihak Polri buat mempersulit sudah terasa sejak awal kedatangan mereka. Dia mengatakan, justru yang memancing keributan itu adalah pihak polisi. Sebab tidak semua penasihat hukum diperbolehkan masuk menemani pemeriksaan Bambang.

“Menurut saya ini diintimidasi. Bayangkan kita di tangga Mabes. Dari seluruh tim, hanya dua yang masuk,” kata Saor kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (4/2) dini hari.

Menurut Saor, gara-gara itulah mereka sempat cekcok dan hampir baku hantam dengan para penyidik di Bareskrim. Dia mengatakan, salah satu hal yang memantik adu mulut itu adalah pernyataan Kepala Sub Direktorat IV Bareskrim Polri, Komisaris Besar Polisi Daniel Tifaona. Dia mengaku sempat meladeni Daniel yang dianggap sewenang-wenang.

“Daniel itu menurut kami sangat tidak etika. Dari samping ruangan dia teriak-teriak, ‘Coba periksa advokat! Provost keluarkan ini dari ruangan ini!” ujar Saor.

Saor menambahkan, Daniel pula yang meminta memasukkan empat Provost dan empat penyidik di dalam ruang pemeriksaan Bareskrim Polri. Sedangkan di pintu luar ruang pemeriksaan dijaga dua anggota Provost yang bergiliran mengawasi. Bahkan, lanjut dia, Provost sering memotong pembicaraan ketika mereka sedang memberikan nasihat hukum kepada Bambang. Padahal menurut dia, hak dan kewajiban advokat sudah jelas diatur undang-undang yakni sedang melakukan perlindungan dan menjaga rahasia kliennya.

“Kami tidak diberi kesempatan untuk berbicara dengan klien kami. Setiap kami membicarakan lalu langsung diinterupsi. Kemudian kami coba ngobrol, kemudian lalu diinterupsi. Dan akhirnya kita berdebat,” sambung Saor. (merdeka.com)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.