Home / Indotimnews / Alfatiha Untukmu Ustadzku Ishak Ngeljaratan

Alfatiha Untukmu Ustadzku Ishak Ngeljaratan

Oleh: Quraisy Mathar

Hari itu, saya mengantar Beliau pulang ke rumahnya di Timur kota.

Sesekali saya mengintip wajahnya dari kaca spion, hanya untuk sekedar memastikan cerita-cerita orang tentang sosok seorang Bapak yang berwajah teduh.

 

Bayangan Beliau di cermin tidak mencerminkan keteduhan, sebab yang kutangkap adalah wajah tegar dan kekar, sangat khas orang Timur.

 

Lalu Beliau mulai bersuara di seperdelapan perjalanan kami. Beliau menyapa “kamu sudah berkeluarga?” Suaranya berat bergaya rock and
roll.

 

Lalu saya menjawab dengan tradisi ketimuranku “iye”. Beliau terdiam sejenak lalu bertanya kembali “anak berapa”.

Saya menjawab dengan gaya dialek yg tetap sama “iye, istri saya baru saja melahirkan putra pertama Pak”.

Lalu Beliau menyahut “tambah lagi”. Saya hanya menjawab “iye, amin”.

Beliau juga sekilas mengamini ucapan saya, sebab kini saya telah memiliki 2 putra dan seorang putri.

Di perempatan jalan, mobil berhenti saat lampu menyala merah.

Beliau memperbaiki posisi duduknya, lalu mulai berbicara kembali “suami dan istri itu seperti jangka, mata yang satu menancap tajam, dan mata yang lain harus berputar dengan teratur”.

Belum sempat saya bertanya, Beliau melanjutkan kembali “suami harus terus berputar, tak boleh berdiam diri, suami harus memutari kehidupan untuk mengais nafkah-nafkah yang halal untuk keluarganya.

 

Sementara istri harus lebih diam dan tenang untuk menjaga putaran suaminya. Jika istri tak tenang, maka lingkaran yang dibuat suaminya pasti akan kusut dan semrawut”.

 

Saat beliau berhenti bercerita, saya bertanya “bagaimana dengan istri yang juga mencari nafkah?” Beliau menjawab “dia tetap harus menjadi mata jangka yang runcing menancap dan harus menjaga martabat suaminya”.

 

Lalu Beliau tersenyum sambil berkata “keluarga pasti akan kacau, jika suami menjadi mata yang runcing, dan istri justru menjadi mata yang berputar”.

 

Saya sedikit berpikir, dan mungkin terlihat oleh Beliau dari cermin spion tengah mobil. Beliau langsung menambahkan “jangan pernah berpikir bahwa menancap itu berarti tak bekerja, dan berputar itu harus bergerak”. Saya melirik ke kaca spion, dan Beliau meneruskan ucapannya “suami harus menafkahi dgn cara apapun yang halal, dan istri harus menjaga dan merawat semua yang ada di dalam garis lingkaran yang dibuat oleh suaminya dengan kelembutan dan kasih sayang”.

Tak terasa, mobil sudah tiba di depan halaman rumah Beliau. Saat turun, Beliau berputar dan menghampiri sambil berbisik “teruslah menulis, saya suka dengan tulisan-tulisanmu, assalamu alaikum Nanda”. Saya membalas “iye, wa alaikum salam, uztad”. Beliau tersenyum dan masuk ke halaman rumahnya. Ternyata betul kata cerita, beliau memang sangat sejuk dibalik tampang garangnya. Hari ini, Tuhan memanggilnya pulang, kembali ke langit, ke tempat yang jauh lebih tenang dan lapang. Pak Pendeta atau Pastur, atau apa saja gelar orang buat Beliau. Namun jika ditanyakan ke saya saya akan menyebutnya dengan Almarhum Uztad Ishak Ngeljaratan. (*)

loading...