Bripka Nizwar polisi yang punya trobosan menggugah dunia pendidikan di Lutim. Dijuluki Pahlawan tanpa Tanda Jasa

oleh -194 views

Indotimnews- Predikat pahlawan tanpa tanda jasa tak lagi jadi dominasi para guru. Seorang polisi pun bisa menyandang gelar ini.

Di Luwu Timur, seorang anggota Polri bernama Bripka Nizwar, didedikasikan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa karena dedikasinya yang tak biasa di dunia pendidikan.

Bayangkan, di tengah kesibukan sebagai aparat, Nizwar masih menyempatkan mengajar anak-anak di sebuah desa terpencil di wilayah Mahalona, Kecamatan Towoti, Lutim.
Ia tak digaji sepeserpun. Bahkan, harus merogoh kocek sendiri untuk menjangkau desa terpencil itu. Tapi Nizwar tak pernah mengeluh.

Ia malah merasa bangga bisa menjadi bagian dari anak-anak tertinggal di Mahalona. Ia mengatakan, dedikasinya jauh dari orientasi meteri. Semua karena rasa tanggung jawab sebagai anak bangsa.

“Anak-anak di sana jauh tertinggal. Tak hanya ekonomi, pendidikan mereka juga sangat terbelakang,” katanya.
Kata Nizwar, ia miris pertama kali melihat kehidupan mereka. Anak-anak banyak yang putus sekolah.
“Bukan karena mereka tidak mau sekolah, tetapi memang sarana yang sangat terbatas. Sudah begitu, pemahaman orang tua mereka tentang pendidikan juga dangkal. Akhirnya, anak-anak ini hidup terbelakang,” jelasnya.

Nizwar awalnya mengaku kebingungan harus berbuat apa. “Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Masalah anak-anak di Mahalona kompleks sekali,” ujarnya.
Kemudian dengan inisiatif sendiri ia coba kumpulkan anak-anak dan mengajari mereka mengaji. Ternyata anak-anak antusias.

Orang tua yang dulunya tak peduli, perlahan-lahan memberi dukungan. Semakin hari semakin banyak anak-anak yang datang belajar.

Karena minat mereka besar, Nizwar tak lagi sekadar mengajar mengaji. Tapi juga ilmu pengetahuan umum.

“Mengajari mereka membaca. Belakangan bahkan ada yang mau belajar bahasa Inggris, ya akhirnya saya buka kelas bahasa Inggris dasar juga,” cetusnya semringah.

Kalau dulu, ia hanya mengumpulkan anak-anak di tanah lapang, lama kelamaan, seiring dengan bertambahnya murid, Nizwar mulai memikirkan untuk membangun kelas, meski sifatnya darurat.

“Saya pikir tidak cocok lagi mereka belajar di tempat terbuka. Harus ada kelas untuk menampung mereka. Biar bangunannya darurat yang penting anak-anak ngumpul di situ belajar,” papar Nizwar.

Setelah membangun kelas, Nizwar juga menyiapkan buku-buku pelajaran dan Alquran untuk murid-murid. Hanya dalam tempo beberapa bulan, sebagian besar murid sudah fasih membaca Alquran.

Ada beberapa murid yang justru menonjol dalam berbahasa Inggris. Terakahir dia membawa anak didiknya ke Kabupaten Tana Toraja untuk berinteraksi langsung dengan turis sebagai evaluasi kecakapan menguasai bahasa Inggris.

Atas dedikasinya, kelas yang dibuka Nizwar di Mahalona mendapat pengakuan dari Dinas Pendidikan Lutim. Saat ini kelas tersebut telah membina kurang lebih 100 anak, dan setiap anak yang lulus mendapatkan sertifikat dari diknas.
Menurut Nizwar, semangat belajar anak-anak Mahalona luar biasa besar. Di tengah keterbatasan, mereka bisa menunjukkan bahwa mereka pun bisa berprestasi dan punya masa depan cerah.

“Saya bilang sama mereka, masa depan kalian ditentukan hari ini. Semakin kalian rajin belajar, semakin membentang masa depan di hadapan kalian,” cerita Nizwar.

Seperti dilansir Tribratanews, Kapolres Lutim AKBP Parajohan Simanjuntak, mengaku kagum dengan Bripka Nizwar. Menurutnya, terobosan Nizwar telah menggugah dunia pendidikan di Lutim.

“Yang buat saya kagum, dia ini polisi yang sibuk dengan tugasnya. Tapi toh masih menyempatkan diri menjadi guru. Tanpa digaji pula,” ujar Parajohan saat mengunjungi proses belajar mengajar anak didik Nizwar di Mahalona.
Kata Parajohan, Nizwar adalah polisi yang berpredikat “pahlawan tanpa tanda jasa”.

Predikat ini pantas disematkan untuknya atas dedikasinya membantu mengangkat derajat pendidikan anak-anak di desa terpencil Mahalona. ( *)

loading...
loading...