Home / Indotimnews / Catatan Dr. Ir. Netty, MS: Desa Sandrobone Desa Mitra UMI Sejak 1985 Pengembang Cabi Rawit

Catatan Dr. Ir. Netty, MS: Desa Sandrobone Desa Mitra UMI Sejak 1985 Pengembang Cabi Rawit

Penulis adalah Dosen Fakultas Pertanian-Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar

MAKASSAR– Desa Sanrobone merupakan desa Mitra Binaan Universitas Muslim Indonesia (UMI) sejak tahun 1985 dan daerah pengembangan cabai rawit di Kabupaten Takalar, Sulsel.

Produksi cabai rawit di daerah ini mengandalkan penggunaan pupuk kimia dosis tinggi seperti Urea yang dapat menurunkan kualitas tanah bila digunakan terus menerus.

Selain itu hasil produksi cabai rawit hanya dapat diperoleh dan melimpah pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan produksi sedikit bahkan tidak ada. Oleh karena itu, peluang terjadinya fluktuasi harga cabai di tingkat petani sangat tinggi.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut yaitu dengan menerapkan teknologi yang ramah lingkungan oleh dosen-dosen Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Sanrobone dengan bermitra dengan Kelompok tani ‘Pakokoa’ dan ‘Mizanul Ulum’. Solusi yang ditawarkan berupa Transfer teknologi Budidaya cabai rawit ramah lingkungan melalui pengurangan dosis pupuk kimia dan disubtitusi dengan penggunaan pupuk organik/Bokashi.

Tujuan yang ingin dicapai dari program ini yaitu peningkatan produksi cabai rawit melalui pengurangan dosis pupuk kimia dan disubtitusi dengan penggunaan pupuk organik atau bokashi serta penggunaan mulsa plastik.

Metode yang digunakan pada program ini berupa partisipasi aktif dan pemberdayaan masyarakat melalui Penyuluhan, pelatihan, pendampingan dan demostrasi plot untuk mengubah pola pikir masyarakat terutama anggota kelompok tani mitra.

Kegiatan PkM dilakukan sejak bulan Maret 2018 hingga September 2018 yang berlangsung di dua lokasi mitra di desa Sanrobone.

Anggota kelompok tani mitra ini diberi pelatihan teknologi budidaya cabai rawit secara organik dan pendampingan pembuatan pupuk bokashi dengan memanfaatkan bahan organik berupa limbah pertanian yang ada di sekitar lahan seperti limbah daun dan batang jagung, jerami dan kirinyuh (Bahasa daerah: Gonrong-gonrong).

Bahan organik diolah dengan mesin pencacah hingga ukurannya menjadi kecil lalu dicampur hingga merata dengan dedak, pupuk kandang dan dekomposer (EM-4) untuk difermentasi selama lebih kurang 10 hari sampai siap untuk diaplikasikan.

Pupuk bokashi yang dibuat petani diaplikasikan ke lahan kelompok tani “Pakokoa” yang luasnya sekitar 20,0 are dan lahan milik kelompok tani ‘Mizanul Ulum’ seluas 5,0 are yang berada di belakang Pesantren Mizanul Ulum. Bibit cabai rawit ditanam seminggu setelah aplikasi bokashi pada bedengan yang telah ditutupi dengan mulsa plastik hitam perak.

Pemeliharaan tanaman cabai rawit selama di lapangan dan penyemprotan pupuk organik cair setiap minggu. Tanaman cabai dipanen sekitar 10 minggu setelah tanam dengan produksi cabai rawit dengan teknologi pupuk organik atau bokashi ini menyamai produksi tanaman cabai rawit yang dipupuk kimia dengan dosis tinggi.(*)

loading...