Catatan kecil Peristiwa AMARAH Tahun 1996

oleh -301 views
Ilustrasi peringatan AMARAH
Ilustrasi peringatan AMARAH

Indotimnews.com– Memasuki tahun ke 18 peristiwa April Makassar berdarah (Amarah). tepatnya 24 April 1996, suatu peristiwa tragis menimpa para pahlawan reformasi. tepatnya teman-teman mahasiswa di kampus Hijau, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Penyerangan terhadap mahasiswa di kampus UMI makasssar telah dilakukan secara beringas oleh dwitunggal TNI-Polri, kala itu.

Penyerangan ini berbuntut hilangnya nyawa 3 mahasiswa UMI yang sampai sekarang belum diketahui pasti apa penyebab kematian dan siapa pelakunya. Perjuangan gerakan mahasiswa di Indonesia hanya mengukir dan mencatat peristiwa Trisakti, Semanggi I dan semaggi dua sebagai catatan sejarah yang senantiasa layak dikenang dan diagung-agungkan.

Padahal beberapa waktu sebelum itu telah terjadi sebuah peristiwa penting, sebagai langkah perlawan para mahasiswa terhadap pemeritah dalam memperjuangkan reformasi di Negeri ini, yakni AMARAH (April Makassar Berdarah). Peristiwa itu mengukir torehan daftar merah sejarah peradaban kontroversi antara aparat dan mahasiswa.

Apalagi terukir ada tiga mahasiswa yang menjadi tumbal peristiwa itu. Mereka adalah Tasrif Daming, Andi Sultan Iskandar dan Syaiful Biya. Peristiwa ini berawal dari terbitnya SK. Wali kota Ujung Pandang mengenai kenaikan tarif pete’-pete (angkot) dengan kenaikan yang sangat fantastis, sekitar 100%..

Jelas ini sangat menambah kesulitan para penduduk kota ujung pandang terlebih para mahasiswa dan pelajar yang hidup dalam keadaan pas-pasan. Sehingga menimbulkan reaksi dari rekan-rekan mahasiswa. Adapun pemicu penyeragan, sampai saat ini masih simpang siur.

Berbagai versi muncul mengenai hal ini. Tapi bagaimanapun pemicunya, kejadian penyerangan aparat dengan senjata dan panser mereka ke wilayah pendidikan merupakan suatu perbuatan yang dianggap tak layak  serta tidak etis dilakukan oleh para pencari nafkah bersumber dari pajak rakyat negeri ini.

Senjata dan Panser yang seharusnya digunakan di medan perang, malah digunakan di medan para penuntut ilmu yang lagi memperjuangkan haknya, malah masuk kampus. Sungguh ironis, tragis, dan kata-kata lainnnya terhadap kejadian ini.

Pada peringatan AMARAH, teman-teman sudah bertekat untuk membuka kembali peristiwa ini dengan membawanya ke ranah yang sesuai demi mencari kebenaran dan keadilan. Jika peringatan sebelum-sebelumnya hanya dengan ceremony tapi pada peringatan ke-18  ini akan berbeda. Sudah saatnya mengusut kejadian ini agar bisa menjadi pelajaran bagi kita semua sekaligus sedikit mengurangi rasa sakit para orang tua korban.  (berbagai sumber)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.