Demo BBM: Kecaman Tindakan Represif Polisi Terus Mengalir

oleh -263 views

images(273)-1Makassar– Tindakan represif pihak kepolisian Polrestabes maupun Polda Sulsel, terus menuai kritik dari berbagai pihak. Terlebih lagi penembakan Adhi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Timur (UIT) menjadi perhatian khusus.

Nah, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) dan legislator Sulsel mengutuk keras tindakan represif aparat kepolisian dalam mengamankan aksi mahasiswa yang melakukan unjuk rasa penolakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

“Jelas apa yang telah dilakukan aparat kepolisian merupakan pelanggaran HAM. Tidak boleh kemudian seenaknya melakukan tindakan represif untuk mengamankan pengunjuk rasa. Tentu kita juga akan membentuk tim mengusut ini,” ujar Direktur PBHI Sulsel, Wahidin Kamase di Makassar, Jumat (7/11/2014)

Ia mengatakan, aksi unjuk rasa mahasiswa bukanlah merupakan pelanggaran pidana yang harus dipukuli, bahkan ada yang ditembak dari jarak dekat.

“Ini hanyalahi unjuk rasa biasa, proses demokrasi menyikapi kebijakan pemerintah. Polisi tidak seharusnya melakukan penganiayaan dan bahkan penembakan langsung ke arah mahasiswa,” katanya.

Legsilator PPP Makassar Busranuddin Baso Tika beserta rekan-rekannya yang juga anggota DPRD Kota Makassar juga ramai-ramai mengecam tindakan berlebihan polisi dengan memukulnya secara membabi buta.

“Polisi adalah pengayom dan pelindung masyarakat, jika pengawalan yang dilakukan dengan mencoba memukul dan bahkan menembak itu sudah pelanggaran HAM,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Legislator Demokrat Makassar Susuman Halim yang menyayangkan tindakan berlebihan polisi dengan memukul, menendang dan menembak.

“Polisi kan punya water canon, punya senjata gas air mata. Kenapa itu semua tidak digunakan, justru malah mengejar dan menembaki mahasiswa. Ini bukan pelaku kriminalitas tapi mahasiswa yang sedang berjuang menentang kebijakan,” ucapnya.

(Antarasulsel/Zul)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.