Dilarang Ugal-ugalan, Pelajar di Balik Papan Tak Kehabisan Akal

oleh -171 views

20150122_14_33_15Indotimnews.com– Meski sudah kerap digelar razia pengendara motor, nyatanya para pelajar tak juga jera. Mereka masih sering ditemukan menunggangi “kuda besi”. Fatalnya, tanpa dilengkapi helm.

MUHAMMAD Bayu , bukan nama sebenarnya, tanpa ragu mengendarai sepeda motor untuk pulang dan pergi ke sekolah. Pelajar yang mengenyam pendidikan di salah satu SMP di kawasan Gunung Pasir ini mengaku, kendaraan untuk menunjang aktivitas sekolah.

Selain itu, jarak antara sekolah dengan rumahnya yang berada di Jalan RE Martadinata jadi alasan. “Dari rumah ke sekolah itu sekitar 5-7 kilometer. Kalau naik sepeda capek. Jadi, saya naik motor saja,” kata remaja yang menunggangi motor sport produksi Jepang ini.

Ia mengaku, selama ini pihak sekolah sebenarnya melarang mengendarai sepeda motor. Dia juga sudah sering diperingatkan oleh guru untuk tidak membawa motor ke sekolah. Namun, tanpa mengendarai motor, dia kurang percaya diri. “Selain jarak rumah saya yang jauh, ini juga untuk menunjang penampilan,” bebernya, kemarin (21/1).

Bayu adalah bukti, bahwa persoalan jarak antara rumah dengan sekolah bukan salah satu alasan membawa motor. Alasan lainnya, ada untuk bergaya. Bisa jadi, kenapa tak jera, karena mereka lebih percaya diri dengan mengendarai sepeda motor.

Berdasar data Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Balikpapan setidaknya pekan lalu telah terjaring razia 61 pelajar. Mereka tak mampu menunjukkan kepemilikan surat izin mengendarai (SIM). Apalagi usia mereka semuanya di bawah 17 tahun. Para pelajar itu pun rata-rata dikenai tilang sebesar Rp 1 juta.

Kasat Lantas Polres Balikpapan AKP Novy Magdalena menjelaskan, mereka yang ditilang wajib mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Balikpapan. “Supaya mereka (pelajar) tahu persis bahwa UU Lalu Lintas 22/2009 pengendara motor adalah berusia 17 tahun dan telah memiliki SIM,” jelasnya.

Ia mengatakan, dalam sepekan, dua kali dilakukan giat operasi atau razia bagi pelanggar lalu lintas, khususnya pelajar. Tempatnya pun berpindah-pindah. Terungkap bahwa 98 persen pelanggar merupakan anak di bawah umur. Kemarin (21/1), Satlantas kembali menggelar razia di kawasan Balikpapan Baru. Sebanyak 12 pelajar terjaring tanpa memiliki SIM.

Sementara dari penelusuran Kaltim Post ke sejumlah SMP dan SMA di Kota Minyak terbukti banyak pelajar yang masih mengendarai motor. Tak sedikit dari mereka yang tidak memakai helm dan ugal-ugalan. Ironisnya, di antara mereka ada yang sambil merokok.

Dilarang, pelajar tak kehabisan akal. Seperti pelajar SMP 12 Balikpapan yang memarkir motor di luar pagar SMA 1 Balikpapan, karena lokasinya tidak berjauhan. Sebanyak 15 sepeda motor terparkir rapi. Sekira pukul 14.05 Wita, benar saja, pemilik motor dari SMP 12 tersebut mengambil satu per satu motornya. Rata-rata usia mereka 15 tahun.

Adapun pantauan Kaltim Post di SMK 6, Jalan Soekarno-Hatta Km 7,5 pemandangan serupa juga terlihat. Puluhan sepeda motor parkir di depan sekolah hingga meluber ke bibir jalan. Wakil Ketua Kesiswaan SMK 6 Balikpapan Tri Aristanto menyebut, pihaknya sudah memanggil orangtua siswa untuk mengikuti sosialisasi larangan mengendarai motor.

Ia menyebut, meski telah dilarang, siswa masih banyak yang mengendarai sepeda motor. Tapi kendaraan mereka tak parkir di sekolah. Melainkan di luar sekolah. Bahkan ada juru parkir liar yang mengawasi motor mereka. Kata seorang juru parkir, per motor dikenakan tarif Rp 1.000 hingga Rp 2.000.

Hal serupa juga terlihat di SMP 3, Jalan Soekarno-Hatta, Km 1,5. Belasan motor diparkir di halaman rumah warga. Kendaraan tersebut diduga kuat adalah milik siswa SMP 3. Salah seorang pemilik rumah mengungkapkan, tiap motor yang parkir dikenakan tarif sebesar Rp 2.000. Pemandangan seperti sudah terjadi saban hari. (kaltimpost)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.