DPRD Enrekang digeruduk aksi unjuk rasa Warga Matua. Ini tuntutannya!

oleh -309 views

Indotimnews– Warga Matua yang tergabung dalam Matua Peduli Lingkungan (MPL) melakukan aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Enrekang, Senin (22/2/2017).

Kedatangan mereka adalah menuntut agar ditutup dan merelokasi pabrik Asphalt Mixing Plant (AMP) milik PT Nindya-Sejahtera di Lingkungan Matua, Kelurahan Buntu Sugi, Kecamatan Alla.

Mereka disambut oleh empat orang anggota dewan, Ketua Komisi II, Disman Duma, Partai Gerindra, Mustain Sumaele, Fraksi PKS, Amin Palmansyah, Partai PBB, Rumjaya Kasmidi.

MPL mempertanyakan kelanjutan dari rekomendasi yang dikeluarkan DPRD Enrekang ke eksekutif tentang penutupan sementara AMP milik

“Kedatangan kami kesini untuk kesekian kalinya, untuk meminta ketegasan dari DPRD Enrekang, untuk menutup dan merelokasi AMP di Matua,” kata salah satu perwakilan aksi Risno Mawanto.

Menurut Inno, DPRD Enrekang terkesan lemah terhadap eksekutif dalam permasalahan tersebut dan setengah hati atas rekomendasi yang telah mereka keluarkan. Ini terbukti dengan tidak adanya tindakan pihak Eksekutip atas keberadaan Pabrik AMP yang berdampak buruk atas lingkungan dan sosial.

Sementara ketua komisi II DPRD Enrekang dari Fraksi GERINRA, Mustain Sumaele, yang menerima para demonstran mengatakan, akan tetap menerima aspirasi warga.

“Kami akan meninjau kembali lokasi tambang dan akan memanggil pihak eksekutif untuk membahas masalah ini,” ujar Mustain.

Para demonstran meminta agar pihak DPRD mengeluarkan pernyataan tertulis dari solusi yang diberikan, namun tidak bisa diamini oleh para legislator.

Hal tersebut membuat para demonstran kecewa dan merobek salinan rekomendasi yang dikeluarkan oleh DPRD sebagai bentuk kekecewaan sikap yang terkesan tidak serius dalam menindaklajuti rekomendasi yang keluar tertanggal 19 Desember 2016 lalu.

Mereka kemudian melanjutkan aksinya ke Kantor Bupati Enrekang, untuk bertemu dengan bupati Enrekang, dalam rangka mempertanyakan tindak lanjut atas rekomendasi penutupan Pabrik AMP. Akan tetapi justru bupati Enrekang lebih memilih untuk menghadiri kegiatan lain ketimbang menemui warga yang menjadi korban dampak AMP tersebut.

Salah seorang Orator Aksi, Tahir menilai bahwa sikap bupati yang tidak hadir di kantor dan menemui para warga Matua semakin menguatkan dugaan bahwa pak bupati tidak peduli dengan warganya sendiri. (*)

loading...
loading...