Ekonomi Rakyat Tani di Pangkep “Lumpuh”

oleh -205 views

_20160311_155104Pangkep– Dengan realitas yang terjadi disejumlah lahan pertanian yang tiap tahunnya, nampak hamparan luas kekeringan di musim kemarau, hampir tiap lahan sawah tidak berfungsi, akibat dengan jebolnya waduk Tabo-Tabo lima tahun silam, membuat ribuan hektar tidak di mampaatkan oleh rakyat tani, sehingga dari tahun ketahun, terasa ekonomi rakyat tani “Lumpuh” Demikian di ungkapkan Herman Djide, Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKP-Indo) Kabupaten Pangkep, di pondok Aspirasi Rakyat di Tanatea Kelurahan Samalewa Kecamatan Bungoro, Kamis (10/3)

Waduk Tabo-Tabo yang jebol tahun 2012, namun baru di kucurkan anggaran tahun 2015, dan memasuki Desember 2015, sumber penampungan air irigasi yang di tunggu-tunggu rakyat tani, baru selasai akhir Desember 2015, sayangnya saluran irigasi termasuk saluran skunder dan saluran primer, yang lagi bermasalah, rusak berat di sejumlah lokasi, membuat air yang di tampung di waduk-Tabo-Tabo, kembali terbuang, tidak bermampaat untuk petani, hingga sekarang, bahkan memasuki musim tanam kemarau tahun 2016, juga masih di pertanyakan warga tani.

“Mudah mudahan saja pak, kita bertani tahun ini, karena sudah lima tahun berjalan, sawah kami tidak perna di tanami padi seperti dulu dimusim tanam kemarau, karena tidak ada air dari saluran” Keluh Saleh, salah satu petani di Kecamatan Bungoro, yang mendatangi Pondok Aspirasi Rakyat yang didirikan oleh Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKP-Indo), Kamis, (10/3).

Herman Djide, yang melayani aspirasi rakyat tani tersebut, berharap kepada Pemerintah, kiranya lebih memberikan perhatian cukup besar terhadap pengelolaan lahan-lahan pertanian, dengan memperbaiki segala fasililitas yang di butuhkan petani, termasuk perbaikan saluran irigasi, dengan mengelontorkan anggaran yang besar.

Kalau perlu wilayah pertanian dululah yang di prioritaskan terhadap anggaran tersebut, sebab kalau hal ini di abaikan, maka yakin ke depan, ekonomi rakyat tani “lumpuh, bahan bakal terjadin kesenjangan sosial yang cukup besar” sebab hasil usaha tani yang tidur, “Coba di kalkulasi saja, dalam satu hektar, bisa menghasilkan hingga mencapai Rp 50 juta, kalau ada seribu hektar dikelola, hasilnya dapat mencapai 50 Milyar”, sementara sebaliknya, kalau tidak di kerja, kerugian juga capai Rp 50 milyar. Jadi pasti akan lumpuh ekonomi rakyat tani, Ia kan?

Untuk itu, dengan besar keinginan petani Pangkep terhadap Pemerintah, baik Pemerintah pusat, Provinsi maupun daerah, kiranya hal ini mendapat perhatian serius, ujar Redaktur Beritakota Nusantara ini. ( Syamsul)

Editor : H. Sakkar Rauf

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.