Eksotisme Batu Akik Red Raflesia, Saat ini Banyak Dikejar Kolektor

oleh -400 views

FB_IMG_1423741982865Indotimnews.com– Kembali ke zaman batu. Ya, ungkapan tersebut sering terlontar dari mereka yang tidak begitu menggemari batuan akik. Sebab, akhir-akhir ini hampir setiap sudut perkotaan bahkan pedesaan terdapat pengrajin batu akik, di seluruh Indonesia.

Bahkan, sudah beberapa kali pula digelar kontes batu akik di Jakarta, yang diikuti pecinta batu akik dari seluruh Indonesia. Salah satu batu akik yang sedang popular dan naik daun adalah batu akik Red Raflesia. Batu akik dari Bengkulu ini semakin digemari, sehingga harganya pun semakin tinggi.

Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir ini bahan batu akik Red Raflesia ini semakin sulit ditemui. Batu akik Red Raflesia ini, memiliki beberapa bagian warna. Di antaranya berwarna kuning, orange dan putih. Tetapi, biasanya batu akik Red Raflesia yang berwarna merah yang paling dicari dan kini mulai langka. Bahkan, disebut-sebut batu akik Red Raflesia ini kini mulai menyaingi batu aki Bacan yang terkenal dari Maluku Utara itu.

Batu akik Red Raflesia memiliki warna merah transparan. Dari jenisnya red rafflesia memiliki beberapa warna seperti merah kecoklatan, merah atau merah orange. Menurut penelitian laboratorium, batu akik Red Raflesia termasuk jenis batuan mulia. Salah seorang pedagang bahan batuk akik Red Raflesia, di Curup, Provinsi Bengkulu Roma (25) ketika ditemui mengakui, untuk saat ini kesulitan mendapatkan bahan batu akik Red Raflesia yang berwarna merah.

Tak heran jika bahan kualitas super yang dijualnya seharga Rp 500.000 – Rp 600.000 per Kilogram dalam sekejap langsung habis terjual. Bahkan, dia pernah menjual bahan Red Raflesia seharga Rp 5 juta bahan dengan berat 1 Kilogram utuh kualitas super. Biasanya, pelanggan yang bisa membeli bahan batu aki Red Raflesia kualitas super ini berasal dari Jakarta, Lampung, Jambi dan Aceh . Dia menjelaskan, Red Raflesia kualitas super adalah, bahan batu akik yang memiliki daging lebih banyak dari kulit yang berbahan kapur. “Untuk bahan Red Raflesia super berwarna merah ada, tetapi sudah jarang. Kadang-kadang tidak ada sama sekali,” kata Roma. 14186097261530550592 Cont0h Bahan Red Raflesia

Menurut Roma, sebanyak 50 Kilogram bahan batu akik Red Raflesia berwarna merah miliknya bisa habis dalam tempo 2 hari, terkadang dalam sehari sudah habis. Karena tingginya peminat batu akik Red Raflesia ini. “Rata-rata pemesanan paling sedikit bisa sampai 5 Kilogram. Tetapi, ada juga yang memesan hanya 1 Kilogram,” paparnya. Sementara itu, salah seorang pengrajin batu akik di Curup Robet (33) mengatakan, dia tidak menjual bahan batu akik, melainkan menjual batu akik yang sudah jadi.

Dari sekian banyak batu akik hasil olahannya, diakuinya batu akik Red Raflesia yang paling laris terjual. Mulai dari Rp 400.000 hingga Rp 2 juta per batu akik, tergantung ukuran batu akik tersebut. “Kalau yang berukuran kecil ini saya jual Rp 400.000, kalau yang besar bisa sampai Rp 1 juta. Tetapi, kalau yang Red Raflesia Cat Eye (mata kucing) bisa seharga Rp 2 juta,” katanya sembari memperlihatkan batu akik Red Raflesia yang siap dikirimnya ke Jakarta dan Jambi itu.

Di sisi lain, menurut salah seorang penggemar batu akik Okta (30), langkanya batu akik Red Raflesia ini karena, bahannya yang kini mulai sulit ditemukan. Sulitnya ditemukan bahan batu Red Raflesia ini, bisa jadi karena tingginya peminat batu akik Red Raflesia. Mereka bisa memborong bahan batu akik dari Bengkulu ini sampai berkilo-kilo gram. “Kalau mau mencari yang berwarna merah, sekarang ini cukup sulit. Saya sudah berkeliling mencari bahan yang berwarna merah, belum ketemu. Ada yang warnanya kuning,” ujar Okta Sabtu (13/12/14) lalu.

Untuk mengantisipasi kelangkaan batu akik Red Raflesia dan untuk mempertahankan ciri khas batuan mulia dari Bengkulu, sehingga tidak dicaplok oleh daerah lainnya. Komunitas batu akik di Bengkulu mendorong pemerintah, supaya segera membuat Perda tentang batu akik. Yang intinya, batu akik yang dikirim ke luar Bengkulu harus sudah jadi berbentuk batu akik yang sudah diolah sedemikian rupa, hasil kerajinan masyarakat Bengkulu, tidak boleh lagi mengirimkan bahan batu akik. Keingin mereka ini cukup beralasan, jangan sampai bahan yang keluar dari Bengkulu berharga murah, kemudian dijual mahal ketika sudah diolah di daerah lain. Apalagi sekarang sudah mulai langka. Sumber: Kompasiana

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.