Home / Indotimnews / Hari Buku se Duna: Jangan Pisahkan Anak dengan Buku!

Hari Buku se Duna: Jangan Pisahkan Anak dengan Buku!

Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma,
Ketua JOIN Kota Makassar

Menyambut hari Pendidikan Nasional,Tanggal 2 Mei 2018, hari Buku Sedunia Tanggal 23 April 2018 dan hari Buku Nasional, 17 Mei 2018, sebagai praktisi sekaligus motivator minat baca nasional, penulis melihat ada kebiasaan umum melekat pada kaum ibu. Kebiasaan menghabiskan waktu berlama-lama di mall, apalagi kalau hari libur. Pertanyaan, apa masalahnya? Jawabannya, bukan masalah. Asal saja, kaum ibu yang baik menghabiskan waktu berbelanja di mall juga pandai memilihkan buku-buku berkualitas bagi anak-anaknya. Dengan demikian, waktu yang tersita untuk menimbang dan menentukan semakin lama, jika pilihan buku bagi anak-anak terlalu banyak.

Lalu, buku mana yang paling baik? Proses pemilihan buku yang terbaik bagi anak-anak butuh waktu dan pertimbangan bijaksana dalam memandu anak-anak memilih buku di toko buku. Pilihlah buku yang paling banyak memberikan manfaat untuk tujuan membaca. Yang jelas, jangan buat anak-anak kecewa setiba di rumah, selain membeli buku tak berkualitas juga tak layak baca bagi anak-anak.

Sebagai orang tua yang aktif, pandailah mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih buku buat anak-anak. Misalnya saja, pertimbangan faktor minat, kebutuhan dan kepentingan anak terhadap sebuah buku. Bukankah buku bukan hanya kumpulan kertas, lem dan tinta? Tetapi, buku menurut Cristopher Morley adalah menawarkan sebuah kehidupan baru. Karena itu, buku yang baik menurut Riris K Toha Sarumpaet adalah buku yang memberikan kesan bagi anak-anak.

Apa kriteria buku yang baik? Temanya sesuai kehidupan anak, tokohnya dapat dikenal dan terpercaya, kalimatnya runtut dan langsung dengan struktur yang baik serta logis, ciri-cirinya dilengkapi dengan ilustrasi, kemasan dan ketebalannya memadai buat anak-anak.

Nah, untuk memilihkan bacaan anak-anak yang baik dan ideal dengan memerhatikan kondisi kegembiraan dan semangat dalam menghayati hidup kita. Hanya dengan buku-buku yang menarik dan mampu menarik selera baca anak akan merubah mereka menjadi pembaca yang aktif dan buku-buku yang tak mampu memberikan semangat dan kecintaannya membaca anak-anak bakal menjauhkan mereka menjadi pembaca aktif.

Dan, hanya buku-buku yang tak mampu memberikan semangat dan kecintaan anak-anak bakal menjauhkannya menjadi pembaca aktif.

Karena itu, dibutuhkan orang tua yang pandai dan mampu memilihkan buku-buku berkualitas pada anaknya. Kuncinya, dibutuhkan figur orang tua yang pandai memilih bacaan bagi anak-anaknya.

Karena orang tua yang kurang pandai memilih bacaan untuk anaknya adalah orang tua yang tak terbiasa bergaul dengan buku-buku. Mengapa orang tua sulit memilihkan bacaan anaknya? Pertama, karena orang tua kurang pengetahuan tentang buku.

Ada tiga hal yang dapat menumbuhkan kebiasaan membaca terutama di kalangan kaum ibu sebagai orang tua, pertama menumbuhkan motivasi setiap saat di kalangan ibu-ibu agar mau menjadikan membaca sebagai bagian penting dalam kegiatan hidupnya.

Apa pentingnya motivasi bagi ibu-ibu? Motivasi penting karena hanya dengan motivasi dapat mendorong ibu-ibu melakukan suatu kegiatan, apalagi dengan membaca tanpa motivasi takkan tumbuh kebiasaan membaca. Karena motivasi di kalangan ibu-ibu amat penting, selain mendorong dan membentuk kebiasaan ibu agar hobi membaca di rumah, juga motivasi oleh Mountain adalah sesuatu yang mendorong seseorang belajar melakukan yang terbaik.

Kedua, kurangnya pengalaman membaca. Menumbuhkan terus menerus kebiasaan membaca ibu-ibu, penting.

Karena itulah, penulis beberapa tahun lalu menggagas Gerakan satu Ibu, satu Buku, satu Minggu. Tujuannya, menumbuhkan minat dan keinginan yang kuat disertai usaha seseorang untuk membaca.

Hanya dengan ibu-ibu yang memiliki minat baca yang kuat akan mewujudkan anak-anaknya menjadi anak yang gemar membaca.

Frymeir menyebutkan tujuh faktor mempengaruhi perkembangan minat baca seseorang, di antaranya pengalaman ibu-ibu sebelumnya. Seorang ibu punya minat baca tinggi karena aspek pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya tentang pentingnya membaca dalam sebuah keluarga.

Caranya, membuat kegiatan membaca sebagai bagian penting dalam sebuah keluarga. Setiap keluarga punya agenda setiap hari Sabtu berkunjung ke mall. Saat berkunjung ke mall ibu-ibu juga mestinya punya agenda berkunjung ke toko buku, selain membeli dan membaca buku sekaligus sarana membiasakan diri berkunjung ke toko buku.

Ketiga, kurangnya kesungguhan mengerjakan kedua faktor di atas. Orang yang suka membaca buku, menaruh perhatian pada berita dan informasi tentang buku. Caranya, mereka suka membaca resensi buku-buku baru yang setiap Minggu yang ada di berbagai media. Berikutnya, pengalaman membaca sangat menentukan, memberikan strategi dan teknik pada seseorang menilai sebuah buku. Semakin banyak membaca, semakin menguasai penggunaan bahasa yang baik, bertutur logis dan runtut. Kesungguhan membaca tumbuh karena adanya perhatian, ada rasa suka, ada penghargaan pada buku-buku yang dipilih. Biasanya orang tua yang suka membaca selalu saja santai memilih bacaan buat anak-anaknya di toko buku.

Kami yakin dan percaya dengan kebiasaan membaca yang tumbuh di kalangan kaum ibu-ibu, bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia anak-anak di rumah. Bukankah kita butuh ibu-ibu yang suka membaca buku? Hanya ibu yang suka membaca buku di rumah, akan melahirkan generasi muda yang cerdas, mandiri dan tangguh dalam hidupnya.

Karena itu, Gerakan Ibu Suka Membaca adalah gerakan kebudayaan yang tumbuh dari rumah tangga. Semoga……. (*)

loading...