Heboh, di Sungai dan Tambak Pangkep, Ikan dan Udang Tiba-tiba Mati

oleh -404 views

images(281)-1Pangkep– Dua hari terakhir, sejak Sabtu (8/11/2014) hingga Minggu (9/11/2014), warga di bantaran Sungai Pangkajene, Kabupaten Pangkajene, Kepulauan, Sulsel, dihebohkan dengan kejadian alam langka.

Ikan, udang, kepiting, belut, dan makhluk yang ada di Sungai utama yang membelah Kota kabupaten yang berjarak 56 km utara Makassar, ibu kota provinsi Sulsel ini, mengapung dan mati di permukaan air.

Di Muara sungai, fenomena alam laiknya ikan diracun ini terjadi sabtu sekitar pukul 13.00 wita. “PAs air bonang (pasang)” kata Endang (35), ibu rumah tangga di kampung Toli-toli, Tekonglabbua, pangkajene, pangkep kemarin.

Sedangkan di kampung Tumampua dan mattoangaing sekitr 3 km dari muara sungai pangkajene, melihat dengan mata kepala kejadian itu sekitar pukul 17.20 wita.

“Pas habis hujan sedikit, udang udang naik semua, loncat2 ke pinggir ” kata bachtiar, warga Jl kemammuran, mattoanging, pangkajene.

Hingga minggu pagi, Sungai Pangkajene tak ubahnya tambak yang lagi panen ikan. makhluk air yang biasanya ditangkap dengan pancing, jaring, atau jala sejak kemarin siang, cukup ditangkap dengan ember, tangan, atau sarung yang dibentang.

“Saya sudah 60 tahun lahir dan besar di kampung Solo, tapi baru kali ini ikan naik semua, seperti minta ditangkap,” kata Zainuddi , warga Dusun Solo, Desa Bucinri, Bungoro, di ujung barat muara sungai pangkajene, Minggu (9/11/2014) pagi.

Zain yang bekerja sebagai nelayan di muara sungai ini, sejak Sabtu kemarin, tak melaut. Dia dan puluhan tetangganya, cukup menyediakan jaring sederhana untuk menangkap udang windu, kepiting bakau, ikan kerapu, baramundi, dan ikan muara lainnya.

Zainuddin mengaku fenomena alam ini menguntungkannya, namun dia khawatir, setelah bencana ini, dia akan kehilangan mata pencabariqn untuk waktu yang panjang.

“Kalau ikan yang besar saja yang mengapung, ini berkah, tapi ini bayi ikan pun dan ambari (ebi) juga mati semua,” katanya.

kekahawatiran serupa juga dialami nelayan Hasan (54) dan Amir (42).

Warga kampung Tolo-toli, desa Tekolabbua, kecamatan pangkajene, pangkep ini juga sejak 30 tahun terakhir menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan di sungai.

“Mungkin orang kota yg tinggal di mattoanging, Tumampua, dan jagong senang, karena mereka pegawai dan pedagang, tapi kami ini nelayan hidup dari ikan di sungai,” kata Hasan, pemilik bagang udang di belakang rumahnya.

Editor : Andi A Effendy

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.