Hingga Hari ini Dinias Sosial DKI Jakarta Intens Bantu 1.300 Pengungsi asal 12 Negara

oleh -24 views

JAKARTA Memasuki hari ke tujuh, terhitung sejak Kamis 11 Juli 2019, hingga pagi ini, Rabu (17/07/2019), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih intens memberikan bantuan kepada 1.300 pengungsi berasal dari 12 negara, yang saat ini berada di Gedung Eks Kodim, Jalan Bedugul, Jakarta Barat.

Sejumlah perbaikan fasilitas di lakukan seperti pemasangan karpet di mushola, pemasangan spanduk untuk menutupi pagar, penambahan air di toilet dan penyedotan WC, hingga penyediaan tenda pengungsian.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyediakan bantuan berupa 5 unit toilet portabel, air bersih sebanyak 4 tangki, setiap tangki berisi 5000 liter. “Jadi kalau di total 20.000 liter per hari. Sebelumnya hanya 3 tangki,” terang seorang petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yarto saat di konfirmasi, Rabu (16/07/2019).

“Ini merupakan respon dari Pemprov DKI dalam menerima keluhan pengungsi terkait pasokan air. Memang agak sulit ya dengan toilet, kamar mandi, dengan 1.200 manusia. Kita sudah siapkan lima toilet portabel, kemudian toilet-toilet yang di dalam. Memang agak sulit, tapi evaluasi kita lakukan setiap hari,” tambahnya.

Tak hanya itu, Pemprov DKI melalui Dinas Sosial telah membangun 14 tenda pengungsian serta membersihkan gedung utama agar siap di tempati. Dinsos DKI juga menyiapkan makanan siap saji yang di berikan dua kali dalam sehari kepada para pencari suaka.

“Kami menyiapkan 1.200 boks sehari dua kali. Kami juga menyediakan air mineral 40 dus,”, terang Ketua Tagana Jakarta Barat, Idris.

Selain itu, balita dan anak-anak pencari suaka, juga mendapat perhatian Dinsos DKI. Pekerja dan penyuluh sosial di terjunkan untuk membantu menghibur anak-anak dan balita pencari suaka. Para pekerja dan penyuluh sosial memberikan kegiatan berupa mewarnai, menggambar dan story telling.

Terkait penanganan gangguan kesehatan terhadap pengungsi pencari suaka, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah mengirim tim kesehatan yang berasal dari Puskesmas Kalideres. Mayoritas pengungsi terkena dehidrasi, gatal-gatal, dan batuk kering. “Mayoritasnya dehidrasi, batuk, sama gatal-gatal. Ada beberapa yang dianggap parah sudah dibawa ke Rumah Sakit,” ungkap seorang petugas Puskesmas yang enggan di sebutkan namanya.

“Sebelumnya kami juga telah sosialisasi tentang gaya hidup bersih kepada anak pengungsi suaka yang berusia 5 tahun ke bawah dan berfokus pada cara mencuci tangan yang baik dan benar,” tambahnya.

Sebagai informasi, pengungsi pencari suaka saat ini masih ditangani Pemprov DKI Jakarta, mengingat keberadaan para pencari suaka menggelar tenda di sekitar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu dianggap mengganggu lalu lintas serta jalur pejalan kaki.

Pemindahan para pencari suaka ke tempat penampungan sementara, ternyata tak menyelesaikan masalah, jika belum ada tindakan langsung dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees).

Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Irmansyah mengungkapkan Pemprov DKI saat ini akan terus memberikan fasilitas untuk para pencari suaka atas dasar kemanusiaan, yang sudah diatur dalam Peraturan Presiden nomor 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri.

Meski begitu, Irmansyah mendesak agar UNHCR mengambil sikap atas nasib pengungsi pencari suaka.

“Mereka sudah pasti tidak bisa tinggal permanen, berapa lamanya (mengungsi) tidak tahu. Makanya, harus di lakukan diskusi di tingkat pusat. Ke imigrasian bukan di tingkat Pemerintah Daerah, tetapi Pemerintah Pusat. UNHCR juga harus segera bertindak, karena kalau tidak, jumlah mereka akan terus bertambah dan perlu dipikirkan bagaimana penanganannya,” terang Irmansyah, Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta. (IS)