IJTI desak kepolisian usut kekerasan jurnalis TV di aksi 112

oleh -306 views

Indotimnews– Kekerasan terhadap pers kembali terjadi. Kali ini sejumlah wartawan televisi (TV), mendapat perlakua atau penganiayaan pesert

a aksi 11 Februari 2017 (112) yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Karena itu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat mengecam dan mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah oknum peserta aksi terhadap jurnalis Metro TV Desi Fitriani (reporter) dan Kamerawan Ucha Fernandez.

Demikian jurnalis, Global TV, Dino,  saat meliput aksi damai 112 di Mesjid Istiqlal juga mengalami penganiayaan.

Bahkan Jurnalis Metro TV dan Global TV saat ini mengalami trauma dan luka-luka akibat aksi kekerasan tersebut.

Kekerasan terhadap Desi, Ucha, Dino dan seorang sekuriti Metro Tv, terjadi saat sedang bertugas meliput aksi Damai 112, menjadi kecaman sejuah organisasi kewartawanan..

“Mereka (massa) mukul pake bambu dari atas, samping, lalu kita juga dilempar pake gelas air mineral” ungkap Desi Fitriani. Sementara kamerawan Metro Tv Ucha, diludahi dan ditendang, dalam siaran pernya.

Sementara Dino, Global Tv,  sempat di intimidasi karena dianggap tidak sopan menyebut Rizieq tanpa menggunakan kata Habib.

“Saya dikerubungi massa dan dibilang gak sopan,” ucap Dino.

Karena itu, IJTI dan Satgas Anti Kekerasan Dewan Pers akan melakukan advokasi dan penyelidikan atas tindakan yang dilakukan sejumlah oknum saat aksi damai.

Sementara itu, Ketua Umum IJTI, Yadi Hendriana, menilai ada dua peristiwa hukum yang terjadi.

“Pemukulan adalah delik umum yang legal standingnya berada pada korban langsung bukan pada perusahaan. Kedua terkait penghalangan kerja sebagaimana diancam Pasal 18 ayat (1) UU Pers, hal ini mengacu pada Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) yang legal standingnya ada pada perusahaan pers,” tegas Yadi.

“IJTI mengimbau terhadap semua pihak, agar menghormati profesi jurnalis yang pada dasarnya dilindungi undang-undang,” terang Ketua umum IJTI.

Inulah  pernyataan sikap IJTI yterkait insiden aksi 112 terhadap kekerasan jurnalis:
1. Menghalang-halangi serta melakukan tindak kekerasan terhadap para jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya merupakan pelanggaran Undang-undang dan pelaku bisa dikenakan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 18, UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers.
2. Meminta aparat kepolisian serius dan bersikap tegas menindak siapapun baik masyarakat sipil maupun non sipil yang telah mengancam dan melakukan tindak kekerasan kepada para jurnalis.
3. Meminta aparat menjamin dan melindungi para jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya
4. Meminta kepada semua pihak jika merasa dirugikan atas pemberitaan agar memproses melalui mekanisme yang berlaku, seperti menggunakan hak jawab, meminta koreksi, hingga mengadukan ke
5. Jurnalis dan media wajib menjaga independensinya, menjalankan tugasnya secara profesional dan sesuai Kode Etik Jurnalistik.

Terima kasih.

Jakarta 11 Februari 2017

Ketua Umun IJTI
Yadi Hendriana
Sekjen IJTI
Indria Purnamahadi

loading...
loading...