Home / Indotimnews / IMMIM Fasilitator Keragaman Pemimpin Muda Islam Australia dan Sulawesi Selatan

IMMIM Fasilitator Keragaman Pemimpin Muda Islam Australia dan Sulawesi Selatan

MAKASSAR– Silaturrahim DPP IMMIM, Konjen Australia Makassar, Muslim Women Leaders Forum (MWLF) dengan pemimpin muda Islam Australia berlangsung di Gedung IMMIM Jl.Jendral Sudirman Makassar(12/3).

Mereka Membahas ” Persepsi Pemimpin Muda Islam tentang Keberagaman”.

Hadir Konjen Australia Mr.Richard Mattews, Ketua DPP IMMIM Dr.H.M.Arfah Shiddiq, M.A, Ketua MWLF Prof.Masrurah Mokhtar, M.A, Ketua YASDIC IMMIM Unit Pesantren Ir.H.Nur Fadjeri FL, M.Pd, Dr. H.m.ishaq shamad MA, Sekjend DPP IMMIM dan sejumlah pengurus Ormas Islam.

Ir.Nurfadjeri yang dikenal dengan sebuta ibu Ulfa dalam pengantar diskusi menyatakan tempat di IMMIM ini bersejarah.

Diketahui, Sejak 55 tahun lalu IMMIM sebagai tempat para tokoh Islam berkumpul untuk bersatu dari berbagai faham yang berkembang di Makassar. Hal ini dibutikan dengan mottonya: “Bersatu dalam Aqidah, Toleransi dalam furu’ dan khilafiyah” (H.Fadeli Luran).

Dikatakui, disini hadir para tokoh pemuda di Makassar, dari Nahdlatul Ulama, Pemuda Muhammadiyah, pemuda DDI. Bahkan guru-guru pesantren ikut hadir bersama. Hadir pula perwakilan dari Kemenag Sulsel serta Prof.Masrurah Mokhtar sebagai Ketua MWLF.

Tema tentang keragaman dipilih, karena dua negara memiliki kesamaan antara Indonesia dan Australia.

“Adapun teknis pelaksanaan diskusi dengan model round tabel, setiap meja diisi peserta yang berkompeten  sesuai bidangnya, baik dari pemuda Islam Australia maupun undangan yang hadir. Kemudian setiap meja akan difasilitasi oleh alumni MWLF,” jelasnya.

Ditambahkan semoga di akhir pertemuan, semuanya bisa bersilaturrahim dan menjadi pertemuan ini sebagai diskusi bermakna untuk masa depan networking yang menarik.

Sambutan Ketua DPP IMMIM, Dr.HM.Arfah Shidiq MA memperkenalkan Pengurus DPP IMMIM. Juga menyatakan, IMMIM didirikan 1964 oleh H.Fadeli Luran, sebagai salah satu tokoh Islam di Indonesia. Setiap Jumat IMMIM mendistribusikan khatib ke setiap masjid di Makassar.

IMMIM juga mempublikasikan daftar nama khatib di media cetak di Makassar.  Bahkan IMMIM sudah sekian kali bekerjasama dengan Australia, khususnya dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS, serta berbagai kegiatan lainnya, termasuk hari ini.

Prof. Masrurah Mokhtar, M.A, Ketua Forum Pemimpin Perempuan Muslim Sulsel yang juga Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), menyatakan program Australian Exchange membahas persoalan berbagai aspek, education, multicultural, sosial budaya, dan lainnya.

“Tujuan pertemuan ini, untuk mempertemukan tokoh muda muslim Australia dan tokoh pemuda Islam Indonesia, yang difasilitasi oleh IMMIM dan Konjen Australia,” tegas Masrurah.

Ia ditunjuk Ketua Forum MWLF, karena senioritas. Diharapkan semua topik dibicarakan sesuai dengan tema yang ada di meja masing-masing.

Richard Mattews menyatakan mereka memfasilitasi diskusi yang membahas masalah pendidikan, multi budaya, seni dan kesetaraan jender. Selain itu, IMMIM dianggap memiliki kedudukan yang sangat penting dan sangat bagus jaringannya.

“Selain IMMIM memiliki Pesantren Modern Putra dan Putri, IMMIM juga mendistribusikan para mubalig dan berkontribusi dalam pengembangan dakwah di masjid. Untuk itu, terima kasih kepada  bu Ulfa dan IMMIM atas kegiatan hari ini,” jelasnya.

Ditambahkan, IMMIM sangat toleran dan moderasi pandangannya dalam Islam. Bahkan Australia pernah bekerjasama dengan IMMIM dalam program pencegahan HIV/AIDS, termasuk program Muslim Women Leaders yang sangat sukses trainingnya selama 2 minggu di Melbourne Australia.

” Ini sangat penting bagi kami, dan hasilnya sangat bagus dalam mengubah dunia,” cetus Richard.

Ditambahkan, Ada Prof.Masrurah yang juga Rektor UMI dan beberapa pemimpin wanita dari Makassar yang telah memperjuangkan kesetaraan jender di Makassar.

“Hal ini sangat penting karena Prof. Masrurah yang memimpin gender equality di Makassar ini,: urainya.

Host Dr. Setiawaty Yani memandu jalannya diskusi dan meminta setiap meja menggunakan waktu 15 menit untuk diskusi sesuai tema (gender equality, multicultural, education, art dan culture).

Setelah diskusi para pemimpin muda Islam Australia menyampaikan hasil diskusi secara bergantian, diantaranya Hamid. Ia menyatakan hasil diskusi di meja multikultural menunjukkan ada diskrimasi  yang dirasakan umat Islam di Australia tetapi yang terpenting, adalah bagaimana mengatasi perlakuan distkriminasi tersebut. Misalnya ia atlit olah raga Kriket, sebagai muslim ia menjadi role model di antara multi budaya di Australia, sehingga ia berhasil mengubah perlakukan diskriminasi itu. Demikian pula dukungan pemerintah Australia yang tidak membeda-bedakan warganya, termasuk umat Islam Australia diberi peluang dan kesempatan yang sama untuk maju.

Siddiq, banyak bercerita tentang pekerjaannya sebagai pelatih orang dewasa. Dikatakannya satu hal yang  bagus bahwa literasi dan numerasi diperlukan dalam hidup.

Namun dibutuhkan pula hal-hal praktis yang harus dipraktekkan, jelasnya.
Selanjutnya di Meja Gender dikemukakan bahwa pertemuan ini dapat mengubah persepsi sebelumnya. Ternyata di Makassar ada Rektor UMI, wanita yang mengangumkan.

Bahkan ditemukan banyak tantangan, seperti kawin muda, pemimpin wanita, dll. Namun banyak hal positif tentang gender di Makassar ini, misalnya jika naik haji, wanita didahulukan. Bahkan wanita berkuasa di dalam rumah tangga (kepala rumah tangga). Yang lebih menarik lagi di Masjid Raya Makassar, sejumlah wanita yang menjadi penceramah. Ini semua menunjukkan bahwa  Makassar jauh lebih baik perkembangan gender equality-nya dibanding di Australia, sebutnya.

Eman, di Meja Art and Culture
menyatakan seni sebaiknya menjadi karir dan melestarikan karya seni dan budaya. Karena Indonesia kaya akan seni dan budaya. Ia seorang artis dan volunteer terhadap para pengungsi yang baru tiba di Australia

. Di meja ini banyak diskusi mengenai perkembangan seni dan budaya kedua negara.

Di Meja Education, Anam Javed (Sekretaris Islamic Council of Victoria), menyatakan diskusi di meja ini membicarakan sistem pendidkan di Australia, baik negeri maupun swasta.

Ia sendiri sebagai guru Biologi di Sekolah Negeri Australia. Ia dihargai sebagai muslimah, walaupun ia satu-satunya guru muslim dan semua siswanya non muslim.

Tetapi ia berjuang untuk mengubah imej negatif warga Australia yang banyak prejudice terhadap umat Islam.

“Saat ini banyak perubahan, terutama bagi kaum muda Australia. Mereka menghargai kami sebagai penganut minoritas Islam di Australia,” jelasnya. (*)

loading...