Home / DAERAH / Ini tema seruan aksi Peringatan HAM sedunia di Papua

Ini tema seruan aksi Peringatan HAM sedunia di Papua

Indotimnews– Front Persatuan Rakyat, Hak Asasi Manusia Untuk Semua Orang di Papua bakal me urunkan ribuan massa dalam memperinbati Hati HAM sedunia, di Jauapura, Papua

Informasi yang diperoleh media ini, Kamis (7/12/17), dari jaring terkait Rencana Aksi Demo Damai dari ke
Ompok Front Persatuan Rakyat, Hak Asasi Manusia Untuk Semua Orang dalam rangka HARI HAM SEDUNIA mengingatka , sejak deklarasi pada 10 desember 1948 , situasi HAM di dunia pada umumnya terus memburuk. Mulai dari konflik berkepanjangan yang berujung perang antar bangsa dan etnis, pencablokan wilayah Negara berkembang atas nama pembangunan yang berujung pada kerusakan tatanan masyarakat dan hilanya nyawa manusia yang dieksploitasi, serta menyisakan kerusakan alam yang tak dapat dibangun kembali.

Karena itu, Front Persatuan Rakyat, Hak Asasi Manusia Untuk Semua Orang Kordinator Umum Samuel Womsiwor menyerukan, agar masyarakat dk daerah itu, ikut turun aksi dalam merayakan HAM sedunia yang akan digelar 10 Desember 2017,

“Di Indonesia sejak disetujuinya (ratiikasi) HAM pada tanggal 30 september 1958, nilai-nilai kemanusiaan belum mampu diadopsi oleh Indonesia yang saat itu (diatas1966) masih berada di bawah kekuasan otoriter Orde Baru,” jelasnya.

Dimana sebagian besar wilayah Indonesia lanjut dalam seruan itu, berada dibawah control resim militer (DOM). Sehingga Indonesia rentan sekali dengan pelangggaran kemanusiaan dan kejahatan secara masiif dilakukan seperti peristiwa PKI 1965, peristiwa tannjung priok 1984, semanggi I dan II- trisakti 1998 dan peristiwa lainya yang belum ada penyelesaian hingga sekarang.

“Selama pemerintahan Orde Baru Indonesia mengalami perubahan pola kebijakan ekonomi dari ekonomi terpimpin menjadi ekonomi liberal, mulai dari menjalin kerja sama secara terbuka dengan bank dunia (IMF), dan dibuka akses perusahaan asing dengan dibuatnya regulasi UU penanaman modal asing 1967, dan UU penanaman modal dalam negeri, yang menjadi babak baru dibukanya akses ekspoliatasi terhadap tanah dan wilayah masyarakat adat di Indonesia. Yang berujung pada rusaknya ekosistem dan tatanan masyarakat pribumi di Indonesia,” ucapnya.

Sedangkan di Papua sejak aneksasi pada tanggal 1 mei 1963. 4 (empat) tahun kemudian wilayah Papua dijadikan target penanaman modal asing , jakni masuknya perusahaan raksasa tambang Emas terbesar ke dua didunia PT. Freeport pada tanggal 7 april tahun 1967 yang mencaplok 2,6 juta hekter tanah adat yang menyebabkan rusaknya linkungan dan kehidupan manusia di bumi nemangkawi Timika, dihasilkan limpah Freeport yang telah merusak lahan-lahat keramat rakyat, tempat mencari makan masyarakat dan berujung relokasi masyarakat ke tempat yang jauh dari peradapan mereka.

Belum lagi dengan dibukanya perusahaan minyak dan gas, serta perusahaan kelapa sawit pertama di sorong tahun 1982 dan kerom pada tahun 1984, mega proyek Mifee merauke, yang telah merusak lebih dari puluhan juta hekter wilayah masyarakat adat hingga sekarang ini. Dan selama proses pencaplokan dan ekspoloitasi wilayah papua. Telah terjadi banyak pelanggaran kiemanusiaan , terlebih wilayah papua saat itu dijadikan daerah operasi Militer (DOM/1963-2003), dan kuat dugaan juga jutaan orang Papua di bunuh atas nama pembangunan (investasi) dan kedaulatan Negara.

Selain itu selama proses pembangunan (Ivestasi) kaum transmigran terus berdatangan untuk mencari hidup dan sekaligus menjalankan program pemerataan penduduk Negara sehingga menciptakan diskriminasi rasial atara orang Papua dan non Papua akibat kepentingan pembangunan Negara, yang berdampak pada termarginalisasinya terhadap orang asli Papua di tanah leluhurnya sendiri serta konflik horizontal yang merupakan wujud kegagalan Negara dalam menunjung nilai-nilai HAM.

Dengan demikian memperingati hari HAM Internasional se-dunia 10 desember 2017 ini, dan dengan melihat dinamika yang berkembang di tanah Papua selama ini. Baik HAM dari sisi sipil, politik, ekosop dan linggungan , maka kami Mahasiswa, pemuda dan Rakyat Papua yang terkabung dalam Pront Persatuan Rakyat Papua FPR menyatakan bahwa Hak Asasi Manusia adalah semua orang. Sehinggga kami mengajak kwan-kawan, om, tante, kaka, adik, bapa, mama untuk dapat terlibat dalam aksi demo damai memperingati hari HAM Se-Dunia / hari HAM Internasional 10 desember 2017, denhan titik kumpul Kapura Uncen perumnas III waena, Expo Wena, Padang bulan USTJ, Uncen
bawa, Merpati, Kota raja, kamus UOG, Kamkey, Taman Imbi dok V dan Dok 9

Laporan: Own

loading...