Kasdam VII WRB: Masih ada yang mempermasalahkan bela negara

oleh -304 views

IMG_20151123_190259Makassar– Terkait bela negara, akhir-akhir ini masih ada segelintir oknum yang masih mempermasalahkannya. Padahal, kata Kurnia, bela negara adalah wujud tanggungjawab warga negara terhadap negaranya. “Padahal itu keliru. Bela negara bukan militerisme. Siapa lagi yang akan membela negara kalau bukan kita?” kata Kepala Staf Kodam (Kasdam) VII Wirabuana Brigjen TNI Kurnia Dewantara saat membuka diklat bela negara pimpinan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) se-Sulawesi di Markas Rindam VII Wirabuana, Pakkatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (23/11/2015).

Berkenaan dengan bela negara, kata Kurnia, terdapat tiga tingkatan berjenjang yang perlu dipahami oleh setiap elemen bangsa. Ketiga hal tersebut meliputi rasa, paham, dan semangat bela negara. “Pertama, apakah kita memiliki rasa bela negara. Saya ibaratkan, jika kita punya rumah, lalu ada orang yang berniat jahat, apakah kita tinggal diam? Tentu tidak. Kedua, paham bahwa negara harus dibela. Ketiga semangat membela negara,” ungkapnya.

Dalam pembukaan diklat, Kurnia menyampaikan sambutan Panglima Kodam VII Wirabuana Mayjen Agus Surya Bakti. “Melalui pelatihan dasar mental dan disiplin atau yang disebut diklat bela negara ini, anggota LDII dapat menumbuhkan kesadaran bela negara dan wawasan kebangsaan. Pada hakikatnya, bela negara merupakan kesediaan untuk berbakti kepada negara dan rela berkorban demi membela negara,” kata jenderal bintang satu ini.

Oleh karenanya, lanjut Kurnia, sistem pertahanan Indonesia menganut sisterm perhatanan rakyat semesta yang melibatkan seluruh komponen bangsa dan sumber daya nasional. “Dengan demikian, dapat dipahami bahwa upaya bela negara adalah kewajiban dan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilasanakan dengan penuh kesadaran, tanggungjawab,dan rala berkorban demi tegaknya NKRI,” katanya.

Ia menambahkan, bela negara merupakan bagian dari pendidikan kewarganegaraan untuk menanamkan jiwa nasionalisme kepada setiap warga Negara. “Agar memiliki jiwa nasionalisme dalam arti luas, yaitu sikap kebangsaan yang diaktualisasikan dalam segenap kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya dihadapan 170 orang peserta diklat.

Lebih jauh, paradigma nasional, ungkap Kurnia, meliputi Pancasila sebagai landasan idil, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, wawasan nusantara sebagai landasan visional, dan ketahanan nasional sebagai landasan konsepsional.

Sementara Ketua Umum DPP LDII, Prof Dr Abdullah Syam, MSc dikesempatan yang sama mengatakan, ormas laiknya bersinergi dengan TNI dalam membela Negara. LDII, kata Abdullah, memegang teguh falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara. “Komitmen LDII bahwa Pancasila, UUD 1945, dan NKRI harga mati. Bahkan, saya sering menantang, orang atau lembaga yang ingin mengganti falsafah Pancasila dengan falsafah lain, maka ia bukan hanya berhadapan dengan TNI/Polri, tetapi juga berhadapan dengan LDII,” ujarnya.

Ketua DPP LDII, Prasetyo Sunaryo mengatakan, kerjasama TNI dengan ormas dinilai sangat strategis. “TNI adalah institusi yang ada di tingkat pusat hingga kelurahan. Begitupula dengan ormas yang mempunyai cabang hingga kelurahan. TNI dan ormas bersama-sama menjaga keutuhan bangsa,” katanya.

Dalam diklat yang akan digelar hingga Jumat (27/11/2015) ini, peserta akan mendapat materi proxy war, wawasan kebangsaan, pengaruh globalisasi digital, dinamika kelompok, dan pelatihan menembak. (*)

Editor : Andi A Effendy

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.