Kodam Jaya: Oknum anggota TNI terlibat penculikan seorang pengusaha Malaysia

oleh -127 views

images(2)Jakarta– Kodam Jaya mengakui anggota TNI terlibat penculikan seorang pengusaha Malaysia bernama Sahlan Bin Bandan saat berada di McDonald Cibubur, Jakarta Timur. Kapendam Jaya Kolonel Inf Heri Prakosa mengatakan, dua anggota yang terlibat berinisial Serma SS dari anggota Kopassus dan Serka R dari anggota Kostrad.

“Sudah diserahkan ke Pomdam Jaya, baru satu yang diserahin. Laporan ada dua, satu masih belum diserahkan, karena masih diperiksa di Kostrad. Anggota Kopassus yang sudah diserahkan,” kata Heri saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (26/7).

Menurut Heri, dua anggota TNI yang terlibat tersebut dimintai bantuan oleh sekelompok orang yang menculik korban penculikan pengusaha Malaysia Sahlan Bin Bandan. Padahal mereka sudah digaji oleh institusi TNI, namun masih belum dinilai cukup oleh mereka.

“Sudah dikasih gaji harusnya bersyukur, masih kurang saja. Kalau soal dipecat, melalui prosedur hukum. Enggak bisa berandai-andai saja,” tukas dia.

Sebelumnya, seorang pengusaha Malaysia bernama Sahlan Bin Bandan menjadi korban penculikan sekelompok orang saat berada di McDonald Cibubur, Jakarta Timur. Korban kemudian dibawa ke sejumlah tempat hingga para pelaku akhirnya ditangkap Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kamis (23/7) malam.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Krishna Murti mengatakan, pelaku berjumlah tujuh orang dengan dua di antaranya merupakan anggota TNI AD. Dari hasil penyelidikan, selama diculik sejak Kamis (9/70 lalu, korban sempat dibawa ke Hotel Haris di Tebet, Jakarta Selatan, dan dibawa ke rumah pelaku berinisial KR di Bogor, dengan dianiaya bahkan diancam disuntik mati oleh para pelaku.

“Para pelaku yang berhasil ditangkap ada tujuh, RF (WN singapura), S alias ES (oknum anggota TNI AD), RS (oknum anggota TNI AD), FB, YL, AG, dan KR (mantan anggota Polri). Untuk yang oknum anggota TNI AD kami koordinasi dengan POM AD dan sudah diserahkan kesana,” kata Krishna di Mapolda Metro Jaya, Minggu (26/7).

Krishna mengatakan, modus penculikan yang dilakukan komplotan pelaku dengan menagih hutang kepada korban sebesar Rp 100 miliar. Sebelum menculik korban, komplotan pelaku ini lebih dulu menculik lima adik Sahlan yang tinggal di Bogor, Jawa Barat.

Khrisna menambahkan, dari hasil penyelidikan juga diketahui pelaku bukan hanya menculik adik Sahlan, melainkan menggondol harta benda kelima adiknya. Menurut dia, harta yang dirampas berupa mobil, uang, cincin dan perhiasan lainnya.

“Pelaku mengajak korban bertemu tapi korban tidak mau. Lalu pelaku cari cara lain menculik kelima adik Sahlan. Dan Sahlan akhirnya menemui pelaku di Cibubur,” kata Krishna.

Khrisna melanjutkan, oleh para tersangka kemudian sahlan dan lima adiknya dibawa ke Hotel Haris di Tebet. Menurut Khrisna, dalam perjalanan mereka dipukul, diancam menggunakan senjata api bahkan hendak disuntik mati.

Saat tiba di wilayah Cijantung, pelaku melepas lima adik korban. Sementara korban lanjut dibawa oleh pelaku S alias ES ke Hotel untuk bertemu dengan tersangka RF.

Setelah korban bertemu dengan RF terjadi perdebatan, kurang lebih 15 menit dan ternyata korban dengan RF tidak ada masalah utang Rp 100 miliar seperti yang dituduhkan korban. Melainkan membuat usaha bersama dalam bidang penukaran uang (Money changer) dan masing-masing menanamkan modal pada usaha itu.

“Karena ternyata bukan utang, para pelaku ini putus asa. Setelah dari hotel korban dibawa ke Bogor untuk menemui WN Malaysia bernama Sultan yang menurut keterangan korban, bahwa Sultan penyebab usaha mereka tidak jalan,” tegasnya.

Atas perbuatannya para pelaku dijerat dengan Pasal berlapis yakni 328 KUHP, 333 KUHP dan 365 KUHP dengan ancaman hukuman diatas 12 tahun penjara.

(merdeka.com)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.