KPJ: Hadapi Demonstran, Aparat “Brutal”

oleh -302 views

IMG_20141101_143151-1-1Makassar– Gejolak aksi menentang rencana pemerintahan Jokowi-JK menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus berlanjut, khuusnya di Kota Makassar.

Aktivis Koalisi Parlemen Jalanan (KPJ) menilai, aksi tutup jalan dan terjadinya anarkisme oleh mahasiswa di sejumlah kampus bukanlah tanpa alasan. Hal itu dikarenakan tidak tertampungnya aspirasi atau tidak ditanggapinya perjuangan mereka oleh sang pemangku jabatan.

“Selain pemangku jabatan yang seakan tuli, ada pula tindakan provokasi atau refresif oleh aparat kepolisian. Karena itu kawan-kawan seperti di kampun UNM, Unismuh, UIT, UMI, Uvri dan lainnya bertindak anarkis,” jelas Hendrianto Jufri, aktivis KPJ, dam relesnya yang diterima media ini, Kamis (13/11/2014).

Dikatakan aparat kepolisian hakikatnya sebagai pengayom, namun sebaliknya menjadi biang terjadinya anarkisme dan bertindak di luar protap yang ada.

“Penanganan sudah dikategorikan brutal. Contoh peristiwa tertembaknya panglima GAM, penangkapan yang dipaksakan kesejumlah aktivis, inilah bentuk kelalaian aparat kita,” tambah Hendriyanto.

Terkait dengan peristiwa yang terjadi di depan Gedung Phinisi kampu UNM, Kamis 13 November 2014 yang mengakibatkan bentrok serta Wakapolres Makassar terkena anak busur, aktivis KPJ ini menganggap bukan alasan untuk mengambil tindakan yang membebi buta.

Iapun mencontohkan penyerangan kedalam areal kampus UNM, sehingga mahasiswa yang tengah kuliah terganggu. Demikian halnya dua wartawan yang tengah meliput ikut jadi korban keberutalan aparat.

“Peristiwa ini perlu menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi kinerja aparat kepolisian di bawah kendali Kapolda Sulselbar, Irjen Pol. Anton Setiadji,” cetus Hendrianto.

Untuk itu KPJ dan ejumlah kalangan meminta Mabes Polri segerah turun tangan dalam persoalan ini. Merekapun berharap agar Kapolda Sulselbar mundur dari jabatan. (Zul)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.