Masyarakat Tomalou Tidore Tolak Pelaksanaan STQ

oleh -416 views

Indotimnews– Masyarakat Tomalou menyatakan sikap tegas untuk menolak pelaksanaan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) tahun 2017 ini bertempat di Kelurahan Tomalou.

Penolakan ini disikapi melalui rapat seluruh komponen masyarakat yang dihadiri tokoh masyarakat, pemuka agama imam dan syara, pemuda, pada Senin malam (16/1) kemarin.

Penolakan menjadi tuan rumah pelaksanaan STQ ini disebabkan oleh ketidak-konsistenannya Pemkot Tikep melalui instansi teknisnya Bagian Kesra dalam menetapkan kelurahan pelaksanaan STQ. Awalnya, ditetapkan di Tomalou sehingga warga begitu antusias mempersiapkan lokasinya di depan masjid Nurul Bahar, dengan bergotong royong memperbaiki talud dan timbunan lokasi.

Namun seiring perjalanan waktu pemkot meninjau kembali tempat pelaksanaannya di tempat/kelurahan lain, namun dalam satu minggu belakangan ini keputusan berubah lagi dikembalikan lagi ke Tomalou, itupun belum jelas karena masih cek juga ke kelurahan yang lainnya lagi. Hal ini membuat masyarakat merasa diperalat seenaknya.

“Pemkot melalui instansi teknisnya terkesan sangat plin-plan. Penolakan ini memberi pesan bahwa masyarakat Tomalou itu berpendirian, serta mau menunjukkan kepada Pemkot bahwa betapa pentingnya konsistensi dalam pengambilan keputusan. Ini juga kita menjaga sikap, pendirian dan marwah kelurahan ini,” kata Abdullah Dahlan, Ketua Pemuda Tomalou yang memimpin rapat pada malam itu.

Selain penolakan pelaksanaan STQ, dalam rapat itu juga dimufakati status masjid Agung Nurul Bahar Kota Tikep perlu ditinjau. Sebab selama ditetapkan menjadi masjid pemda melalui SK Walikota Tikep, aspek pembiayaan opersional masjid ini tidak jelas juntrungannya baik aspek transparansi dan akuntabilitasnya.

Begitupun kegiatan keagamaan Pemkot Tikep tidak pernah melibatkan masjid agung ini, seperti safari ramadan dan kegiatan lainnya.

“Untuk itu kalaupun masjid ini tetap dijadikan masjid agung Kota Tikep, tapi kita minta aspek pembiayaan operasional dan pemeliharaan masjid tidak perlu lagi dari Pemkot daripada harus begitu ribet,” tegas H. Yunus Abubakar, ketua Yayasan Nurul Bahar Tomalou.

Terakhir, dalam pertemuan itu juga warga Tomalou memprakarsai pengalihan status kelurahan menjadi desa, agar pimpinannya bisa ditentukan sendiri oleh masyarakatnya. Alasan esensi lain agar tidak terjadi mis-komunikasi dan disorientasi pimpinan kelurahan itu dengan warganya yang hanya dapat merenggangkan tata nilai dan kearifan sosial yang selama ini dibangun oleh masyarakat Tomalou, seperti semangat gotong royong, swadaya, keharmonisan dan sebagainya.
Faktanya benar bahwa Tomalou adalah kelurahan yang memiliki modal sosial dan modal ekonomi yang sangat besar. Kampung sangat mandiri dalam mendorong pembangunan yang partisipatif.

Buktinya, warga Tomalou secara swadaya membangun jalan sepanjang 2 kilo, begitu juga kegiatan fisik lainnya di kelurahan ini dibuat dengan semangat gotong royong.

Atas sikap ini, masyarakat Tomalou meminta walikota dan wakil walikota untuk mengevaluasi kinerja instansi teknis, sekaligus meminta Pemkot memberi contoh dan tauladan yang baik kepada masyarakat, agar masyarakat dapat bersinergi bersama pemerintah.

Laporan : Ute

loading...
loading...