Home / Indotimnews / OPINI; Demokrasi Tanpa Makna

OPINI; Demokrasi Tanpa Makna

Oleh : Wahdiat Alghazali

Demokrasi, apakah faham ini bisa serupa dengan agama? Seharusnya negara tidak perlu menTuhankan Demokrasi. Semakin tinggi nilai demokrasi maka semakin manusia lupa akan jati dirinya dan tujuan bernegara sesungguhnya.

Sebuah negara idealnya melakukan cara bagaimana memakmurkan rakyatnya dan bisa menerapkan hukum yang seadil-adilnya.

Fakta ini menarik untuk disimak bila kita kembali menelaah lebih jauh tentang apa sebenarnya demokrasi itu dan untuk apa demokrasi itu diciptakan. Secara etimologis, demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos, yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat, dan cratein dan cratos yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Dan berdasarkan gabungan dari kedua kata ini memiliki arti bahwa demokrasi merupakan suatu sistem kekuasaaan atau pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Istilah demokrasi itu sendiri diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).

Dari penjelasan singkat ini tentunya kita sudah bisa menyimpulkan bahwa makna terciptanya demokrasi tersebut ujung-ujungnya adalah demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat dari sebuah pemerintahan.

Jika demikian, berarti absolut kekuasaan itu apakah lebih penting daripada tujuan kekuasaan itu sendiri? Kita sering terjebak dengan istilah ini tetapi sering Alfa dengan tujuan dan hakikat demokrasi itu sendiri.

Jika kita mengartikan “the way to heaven” itu melalui sistem monarki, demokrasi, komunis, agama (khilafah), nasional demokrasi, atau faham apapun yang ada di dunia ini. Tetapi sesungguhnya faham-faham tersebut tujuannya pasti kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ketika rakyat sudah memberikan kekuasaan kepada wakilnya maka kekuasaan itu berpindah. Setelah itu rakyat menunggu hasil yg didelegasikannya. Berarti dalam demokrasi, setelah kekuasaan itu berpindah dari rakyat kepada wakilnya maka akan ditukar dengan apa yang diharapkannya. Apa jaminannya? Jawabnya, tidak ada jaminan apa-apa yang bisa didapat rakyat, tetapi rakyat hanya bisa menuntut dengan cara menurunkannya di tengah jalan atau tidak memilihnya kembali. Berarti demokrasi tidak secara absolut menjamin rakyat bisa mendapatkan apa yg diinginkannya.

Dalam berbagai faham di dunia ini tidak ada satu faham pun yang bisa menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat suatu negara.

Berarti sistem demokrasi bukanlah suatu jaminan. Lalu apa yang bisa membuat rakyat sejahtera dan hukum bisa seadil-adilnya? Jawabnya adalah kepemimpinan.

Jadi sebenarnya demokrasi, monarki atau faham apapun ternyata hanya alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan kesejahteraan dan keadilan hanya bisa dicapai jika kita memiliki pemimpin yang benar-benar ideal untuk mewujudkan tujuan sebuah bangsa. Maka pilihlah pemimpin yang mampu mensejahterakan dan berkeadilan bagi rakyatnya sendiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat. (*)

loading...