Home / Indotimnews / OPINI: Gara-Gara Petruk Jadi Raja

OPINI: Gara-Gara Petruk Jadi Raja

Oleh. : Ariful Amin

Sebuah cerita biasa berawal dari kisah nyata, namun yang ini sebaliknya. Kisah didunia kayangan mengilhami prilaku di dunia nyata.

Biasa dalam pewayangan Goro-Goro salah satu momen yang ditunggu penonton. Goro goro kali ini curhat Bagong kepada sang petruk sebagai Raja. Bagong sang punakawan diluar standar pewayangan, ikut mencalonkan saat ada pemilihan Pandawa Empat. Pandawa empat ini suatu kedudukan yang prestisius. Yang 3 biasa sang Raja Petruk punya Hak untuk meletakan siapa dan dimana. Namun yang 1 sesuai Kitap Undang Undang Kayangan (KUUK), harus rakyat yang menentukan dengan dalih suara rakyat suara Dewa.

Bagong muncul diawali dengan berbagai kontroversi, lah bagong sang punakawan sudah harusnya bijak kok ikut-ikut mencalonkan. Bagong memang ditugaskan petruk, tapi petruk sendiri menjadi raja karena tugas pula. Tugas petruk sama dengan tugas bagong, sosok yang menugaskan adalah seorang dewi yang dikawal oleh seorang yang sangat sakti bernama Drongpati. Punya kesaktian menyadap dan membuat chat mesum untuk mentersangkakan musuhnya. Drungpati punya tujuan mendampingi petruk diperiode selanjutnya. Padahal petruk menjadi raja karena tugas kok masih mau turun tahta menjadi pendampingnya, ini kan makin aneh Drungpati.

Kembali ke Bagong ikut pemilihan Pendawa empat dibekali dengan ilmu kesaktian. Untuk meraih simpati Dewa melalui rakyat dibikinlah Alat Peraga Kampanye, APK boleh bertebaran tanpa bisa ditindak sang juru mata pemilih. Dewa pun berusaha disuap saat menjelang pemilihan.

Tapi dramatis dan kontroversial bagong dipemilihan betul betul harus berhenti. Kekalahan didapat dan ternyata Dewa tidak berhasil disuap. Rakyat sebagai kholifah menghendaki kelompok pendawa 4 yang lewat pemilihan tidak ada aroma Petruk yang hoby mentersangkakan lawan-lawanya. Rakyat ingin yang menjadi raja bukan lagi petugas yang punya kesaktian menghilangkan sembako. Rakyat ingin Raja lebih perhatian kerakyatnya daripada rakyat dari raja jauh hanya gara gara utang.

Yang namanya Bagong belumlah sadar apabila belum bertemu dengan Semar. Kekalahanya tidak diakui dan menganggap lawan yang menyuap Dewa. Padahal rakyat semakin pintar dan paham, barang titipan itu tidak akan lama, mudah rusak, sebab kalau barang bagus tak akan dititipkan tapi dirawat sendiri. Seperti halnya pemilihan pemimpin padepokan yang juga panas karena rakyat makin sadar, harus dari padepokan yang sama atau besar dan ikut Bina Lingkungan Padepokan.

Pendawa empat sudah terisi, bila yang tiga merupakan titipan, berilah 1 titipan rakyat sebagai penghibur rakyat, ditengah tekanan global karena perubahan iklim. Iklim yang tidak sehat dari politik, iklim tidak sehat persaingan ekonomi. Itulah harapan rakyat ke Rajanya melalui sibagong yang semakin bijak sebagai Guru dalam Punakawan.(*)

loading...