Opini: “Kontemplasi Para Aktivis”

oleh -317 views

IMG_20150812_230915Oleh: Tambrin

Kata nya merenung tidak akan menghasilkan apa-apa..?
Aksi tanpa perenungan fatamorgana,,?

Filsuf tidak pernah mati,..!!!

Terima kasih kepada Paulo ferier telah merumuskan teori Praxis pengimbangan antara refleksi dan aksi.
Merefleksi kebijakan Pemerintah terkait,

Terkait “Mobil bus way di Kota Makassar, tentu mentaktisi kemacetan. mobil pete-pete (angkot) tentu akan masuk di setiap lorong-lorong mencari penumpang untuk mengumpang ke mobil busway.

sementara pemerintah tidak pernah meneliti terkait mobil Pribadi yang tidak pernah di batasi produksi nya dan penjualannya,tetap saja macet,

Jadi kebijakan mobil busway yang di lihat oleh panca indera,tapi di dalam idea pemborosan Anggaran pengadaan mobil busway,Idea dan realitas tidak sesuai.

Begitu juga dengan issue Rel kereta Api sebagai alat transportasi bepergian jauh dari daerah-kedaerah,tentu juga menuai polemik bagi para kaum intelektual tentu menelan anggaran yang begitu besar.

Kalau pemerintah bisa jujur,kereta Api belum Layak,karena Mobil bus daerah saja tidak pernah Full angkutan,mana lagi mobil sejenis panter daerah,selalu mengeluh tidak ada muatan,bagaimana kalau sudah ada kereta api,ujung-ujungnya akan menjadi kereta api cargo,pemuat barang,pemuat container,bukan penumpang.

Dialetika Hegel dan Marx akan menapasi aksi masyarakat yang berkesadaran melawan pemerintah yang tidak berkesadaran,atau kepura-puraan saja..
Meng Alinasi kaum proletar gejala kehancuran borjuis.

Semua lembaga-lembaga di kota makassar budaya Aksinya terpisah-pisah,tapi kalau mereka berkesadaran tentu mereka akan bersatu di fly over.

Descartes memang penyumbang pemikiran rasional,co gito orgo sum,agar manusia berakal,manusia berkesadaran,kalau tidak berkesadaran berarti potensi kebinatangannya yang dominan,konspirasi di mana-mana,

Penulis adah aktivis kemahasiswaan Universitas Bosowa 45

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.