Opini: Mahasiswa dan Wartawan Bukan Musuh yang Bersenjata

oleh -279 views

IMG_20141114_131848-1-1-1Oleh: Zulkifli

Ini bukan jaman revolusi, yang dengan mudah menumpahkan peluru kesasaran tembak. Namun negeri ini dirundung gejolak bakal dinaikkannya Bahan Bakar Minyak.

Perlawanan sipil kalangan intelektualpun terus bergejolak. Api perjuangan itu dikobarkan tanpa menggunakan senjata api yang bisa mematikan walau dihadapkan denganan aparat bersenjata.

Mahasiswa, wartawan adalah pejuang kaum intelektual yang terus mengaspirasikan suara rakyat. Nah, muncul sebuah pertanyaan, apakah rakyat miskin dan kalian yang menganiaya kami mau terjebak dengan ekonomi yang terbelit?

Jujur saja dan jangan bohongi kata hati, segenap rakyat kecil, termasuk kalian, akan menolak rencana pemerintahan Jokowi-Jk itu.

Jangankan masa datang, saat inipun rakyat kecil sudah berteriak lantang akibat keterpurukan ekonomi. Makanya, kita berharap pemerintah tidak menambah penderitaan rakyat.

Kemungkinan, hal inilah yang tengah menjadi patokan kalangan pergerakan kampus untuk bisa menjegal bakal naiknya BBM tersebut.

Kalangan intelektual kampus ini, rela melakukan aksi demi kepentingan rakyat. Namun, sayang cibiran maupun anggapan miris dari aparat terhadap aksi mereka kerap didapatkan.

Namun itu, buikanlah halangan untuk terus bergerak menentang kebijakan pemerintah yang dianggap tak pro rakyat.

Ingat, mereka bukan PKI, bukan teroris dan bukan musuh dalam selimut negeri ini. Mereka adalah pemikir yang rela mengorbankan segalanya untuk kepentingan rakyat di negeri ini.

Mengapa mereka anarkis? Jawabannya mungkin tak sesulit menghitung perkalian matematika. Mereka anarkis karena para pemegang tampuk kekuasaan seakan tuli dengan teriakan kaum intelektual itu.

Aparat keamananpun dianggap memprovokasi gerakan damai mereka, yang beruba menjadi anarkis. Kan jelas negeri ini negara demokrasi yang bebas mengeluarkan pendapat di muka umum, jadi janganlah jadi penghalang.

Tapi mereka dari awal sudah dipatahkan oleh kekuatan aparat yang nota bene penegak hukum. Anarkismen mahasiswa bisa saja tidak terjadi, jika para petinggi aparat tersebut cerdas melihat kondisi gerakan penolakan rencana kenaikan BBM tersebut.

Sangkin lalainya, gerakan itu dihadapkan dengan perlawanan sengit aparat. Sejumlah aktivis dianiaya, ditangkap, bahkan salahsatu mahasiswa di UIT ditembaki di bahu sebelah kiri.

Inikah cara elegan menghadapi unjuk rasa?

Yang paling teramat menyedihkan lagi, insiden penyerangan kampus dan pemukulan mahasiswa di Universitas Negeri Makassar (UNM), Jalan A. Pettarani, baru-baru ini.

Pihak aparat selain sudah brutal, merreka masuk ke area kampus itu, wartawanpun yang tengah melakukan tugas jurnalistik menjadi korban keberingasan aparat kepolisian yang tercinta.

Sudah teramat jealas, posisi para jurnalis saat peliputan di Kampus UNM. Kendati dilengkapi Id Card dan menenteng kamera, tetap saja mereka dianiaya.

Tentunya menguat dugaan, jika posisi pihak aparat dalam memberi tindakan refresif ini mendapat perintah dari atasannya yang sudah tak mampu berfikir meredam gejolak di Makassar ini.

Akhirnya, kaum jurnalis di kota inipun melakukan aksi demonstrasi terkait keberutalan pihak kepolisian ini. Para kuli tinta ini dalam aksinya menghendaki Kapolda Sulsel dan Kapolrestabes dicopot.

Itu karena kurang fahamnya para petinggi kepolisian akan tugas jurnalistik di era kebebasan pers saat ini. Polisipun ituiding berbagai pihak sebagai insytitusi yang sengaja menghalang-halangi tugas jurnalistik. Kebebasan perspun yang diatur dalam UU Pers No.40 Tahun 1999 terabaikan aparat hukum.

Nah dari kilas balik peristiwa penolakan rencana kenaikan BBM di Makassar, terjadi penangkapan, penembakan mahasiswa dan penganiayaan wartawan yang tengah tugas jurnalistik harus disikapi dengan serius.

Jika tidak, entah apa jadinya negeri ini. Jangan sampai jadi negeri koboy.

Penulis adalah: Redaktur Media ini

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.