Home / Indotimnews / OPINI: Manusia Bumi

OPINI: Manusia Bumi

Oleh: Muh. Quraisy Mathar

Ini bukan bumi manusia, seperti kata Pramoedya. Ini manusia bumi, kata saya. Bumi manusia adalah karya sastra yang sudah melintas batas, dibaca bergenerasi, sampai akan difilmkan oleh Hanung.

Kalau manusia bumi, tentu bukan karya sastra, melainkan keliaran imajinasi tentang keadaan dan kondisi kekinian kita sebagai makhluk hidup yang selalu “sok” sempurna.

Manusia bumi adalah realitas kita hari ini yang selalu bercerita tentang keledai bodoh yang selalu jatuh ke lubang yang sama. Lucunya, kita hari ini lebih bodoh dibandingkan dengan keledai bodoh yang kita kisahkan ke anak cucu kita. Sembari mengajar si kecil percaya kepada Tuhan, kita juga mengajarinya untuk tak boleh percaya kepada orang lain yang tak sekepercayaan dengan kita. Maka jadilah kita manusia berbhineka dengan balutan curiga dan sekat komunikasi yang sangat tebal.

Akhirnya, kepentingan politik mendapatkan ruang lapang di antara sekat dan intoleransi kita bermanusia dengan keyakinan yang berbeda-beda. Agama menjadi jualan terbaik di panggung politik. Sejarah parsial, sunnah para nabi, bahkan firman Tuhan diteriakkan dalam ruang-ruang kampanye, dan disuarakan berdasarkan kepentingan si politisi semata.

Ayat dan dalil yang tak mendukung, pasti disimpan, disembunyikan, dan haram untuk disuarakan, sebab bisa-bisa konstituen justru sadar dan tak memilih si calon, jika ayat dan dalil itu dibacakan.

Saya kok jadi rindu sama Ahok. Rindu pada seorang yang disebut penista, lalu terpenjara di sel, dan kemudian secara luar biasa menolak amnesti potong masa kurungannya.

Ahok memilih untuk menjalani vonis sesuai dengan yang dibaca hakim dan diketuk palu putusannya. Mau tahu, apa kata orang banyak tentang sikap Ahok? Mereka serentak berkata “ah, pencitraan semata, dasar penista”.

Hahaha, buat apalagi Ahok bercitra di balik gelap dan pengapnya sel tahanan. Buat apa juga Ahok bercitra, ketika istrinya pun bersoal ketika suaminya masih sedang menjalani masa kurungan.

Namun, manusia tetap manusia, dan bumi hari ini tetaplah bumi yang sedang sakit. Mungkin tak bulat lagi, mungkin rotasinya tak seimbang lagi, atau mungkin juga manusianya memang tak lagi butuh dengan buminya. Entahlah…

Manusia bumi hari ini sedang bercerita tentang masa lalu. Masa indah tentang kampung halaman. Masa gelap perang dunia dan perang salib yang berkepanjangan.

Masa keemasan dinasti Abbasiyah atau kecemerlangan Barat saat revolusi industri. Masa ketika para nabi datang bergantian untuk menjaga peradaban sesuai dengan zamannya masing-masing.

Manusia bumi hari ini akan dikisahkan oleh anak cucunya, kisahnya tentang ketidakpedulian, tak punya rasa, intoleransi, saling curiga, bertetangga secara fisik namun rasa-rasanya berbeda dimensi. O la la, manusia bumi, termasuk saya. Menjalani sisa hidup, lalu sampai ke titik tertinggi kehidupan yang disebut “maut”. Dikafani, dishalati, dikremasi, disemayamkan, dikubur, dari tanah kembali menjadi tanah.

Lalu telolet telolet, bukan om telolet, Israfil meniup sangsakala yang kedua. Seluruh manusia mati, bangkit kembali bersama di padang mashar. Menerima seluruh kitab catatan amal kebajikan dan dosa sekehidupannya dulu di bumi. Lalu sebagin orang tersenyum, sebagian menangis, sebagian tak mengerti apa harus tersenyum atau menangis, saat pintu surga dan neraka lerlahan berderek terbuka.

Puja puji kepada Tuhan kembali membahana,  Ratapan sesal mendengung memenuhi angkasa di bawah arsy Tuhan. Saat itu barulah kita semua tersadar betapa bodohnya kita dulu saat di bumi. Tak mensyukuri nikmatNYA dengan cara hidup bersesama, merawat dan menjaga bumi beserta dengan seluruh instrumen dan peradaban yang melingkupinya.

Si penista dan yang merasa dinistakan ternyata duduk bersama, telanjang dan sama-sama bersujud memohon ampunan Sang Khalik.

Sayangnya, pintu ampunan sudah tertutup, dan manusia bumi harus menjalani kehidupan barunya, sebagai manusia surga dan neraka.

Lalu terdengar suara dari putri kecilku “Aba bangun-bangun, katanya mau ke mall”. Saya terbangun dari perjalanan quantum imajinasiku. Kembali kujalani takdir sebagai manusia bumi. Kutatap putriku sambil berbisik dalam hati, bumi ini milikmu, bukan milikku lagi, sebab di matamu kulihat bumi yang lebih baik dibandingkan bumi hari ini yang ada di dalam mataku.

Jadilah manusia bumi yang lebih baik, sebab hanya sekali kita semua bersesama di bumi. (*)

loading...