Opini: Masyarakat Harus Paham Perbedaan Wakil Rakyat Dan Eksekutif

oleh -373 views

Pemilihan anggota legislatif di tahun 2019 nanti adalah peluang bagi rakyat memiliki “wakil pribadi” ataupun “wakil kelompok” di gedung dewan. Sesuai dengan sila ke 4 pancasila indonesia menganut sistem demokrasi perwakilan artinya masing-masing kelompok masyarakat memiliki kesempatan untuk menaruh perwakilan mereka di parlemen. Sebagai contoh misalkan ada anggota dewan yang dipilih oleh 30.000 warga di dapilnya, maka anggota dewan itu wajib memperjuangkan kepentingan 30.000 warga yang memilihnya.

Berbeda fungsinya ketika masyarakat memilih pemimpin pusat maupun pemimpin daerah (eksekutif), Sebagai contoh jika ada gubernur yang terpilih dalam pilkada,  meskipun yang memilih dirinya sekitar 51% dari total pemilih, maka setelah ia terpilih menjadi gubernur atau bupati maka ia harus tetap memperhatikan kepentingan 100%  warganya bukan hanya yang 51% pemilihnya.

Selama ini timbul kesalahan persepsi di masyarakat dalam memaknai  pemilihan calon anggota legislatif. Masyarakat menganggap memilih calon anggota legislatif sama seperti memilih calon pemimpin eksekutif padahal sebenarnya konsepnya berbeda. Wakil rakyat merupakan orang-orang utusan konstituen oleh karena itu hubungan antara pemilih dengan yang dipilih harus terikat. Tidak seperti yang terjadi selama ini Ketika ada calon anggota dewan ingin maju mereka merayu masyarakat untuk memilih dirinya namun setelah terpilih wakil rakyat putus hubungan dengan para pemilihnya. Hal ini terjadi dikarenakan baik itu masyarakat maupun anggota dewan yang terpilih belum memiliki kesadaran pentingnya sistem demokrasi perwakilan.

Jangan pernah memilih calon wakil rakyat yang mengiming-imingi uang dalam proses pemilihan anggota legislatif ke depan sebab biasanya anggota dewan terpilih tidak mau terikat dengan konstituen setelah terpilih nanti sehingga masyarakat tidak bisa menuntut kinerja dari wakil rakyat tersebut. Ketika rakyat menuntut hak anggota dewan tersebut akan mengatakan “loh kan kita sudah beli putus”.

Tahun depan (2019) kita sudah memasuki tahun pemilihan anggota legislatif maupun presiden gunakan kesempatan ini untuk memilih calon anggota legislatif yang memiliki komitmen serta terikat dengan calon pemilih sehingga ketika ia duduk di kursi dewan iya tidak lepas tangan dalam memperjuangkan kepentingan konstituennya.

Jakarta, 26 Maret 2018

*Bastian P. Simanjuntak*
*Politisi GERINDRA DPD DKI Jakarta*

loading...
loading...