Home / Indotimnews / OPINI: Menuju Kaltim Berdaulat

OPINI: Menuju Kaltim Berdaulat

Oleh : Wahdiat Alghazali
Ketua Umum GRKB

Kemenangan Pilgub adalah kemenangan rakyat Kaltim. Kaltim saat ini membutuhkan pemimpin yang tegas dan berani berjibaku di Pusat. Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan propinsi lainnya banyak terbantu dari pusat karena kehebatan dan keberanian Gubernurnya. Mari saatnya Kaltim dapat berdaulat secara pangan, energi, peternakan, perkebunan, kehutanan, pariwisata, hilirisasi industri (sawit, karet), mid stream dan down stream dan lainnya.

Kaltim hanyalah sebuah wilayah yang dieksploitasi oleh negara dan asing, tetapi kembali ke Kaltim hanya sedikit. Saya mengutip teori penghisapan pak Aji Sofyan Efendy +/- 8% saja yg masuk ke Kaltim. Sisanya menjadi capital flight ke pusat dan asing.

Ketidakberdayaan Kaltim akibat hanya menjadi media eksploitasi lebih banyak diakibatkan oleh lalainya Kaltim khususnya putra asli Kaltim untuk melek mata atas kejadian extra ordinary yg dialami Kaltim lebih dari setengah abad.

Ingatan saya langsung tertuju saat bung Karno sedang menghisap cerutunya lalu meminta kepada Mobil Oil dan Roy M Huffington (Huffco) dan Inpex untuk menggarap Migas Indonesia. Huffco, Total+Inpex berhasil mengeksploitasi Blok Mahakam (Kaltim) dengan cadangan gas +/- 42 TCF dan minyak diatas 2 milyar barel. Hingga sampai saat ini dari Blok Mahakam sudah menghasilkan devisa negara yg sangat besar. Bisa bayangkan gas dari Blok Mahakam dialirkan ke PT Badak NGL Bontang dan diolah menjadi LNG yg sampai hari ini sudah berhasil +/- 10.000 shipment LNG ekspor ke Jepang, Korea dan Taiwan. Coba dikalikan 1 shipment equal USD 30 juta, maka berapa ribu triliun yang dihasilkan oleh Blok Mahakam.

Flashback sedikit, kita masih ingat ketika Kaltim booming kayu, setelah era itu berakhir Kaltim seolah hanya membisu menatap masa depan tanpa dapat mengembalikan era keemasan ini karena yg dieksploitasi hanya SDA unrenewable. Era berikutnya ketika tambang emas Kelian dieksploitasi investor rakus dari Australia. Mereka dengan sengaja mengeksploitasi secara cepat dengan meninggalkan lubang besar sedalam 1000 meter. Sekarang hanyalah menjadi seonggok daerah terisolir kembali. Apakah Kaltim masih belum sadar lagi akan kesalahan masa lalunya? Apakah Kaltim tidak pernah sadar akan “Deutsch Deseas” yaitu kutukan daerah penghasil SDA unrenewable?

Kita pun harus sadar bahwa cadangan P1 Gas Blok Mahakam hanya tersisa 9 TCF dan P2 nya mungkin 6 TCF. Sedangkan minyak bumi hanya tersisa tidak sampai 1 milyar barel. Lalu dari sisa relatif sedikit ini akankah kita hanya berpangku tangan lagi dengan membiarkan Pusat mengambil blok-blok terminasi dan memberikannya kepada Pertamina? Masya Allah, kapan Kaltim bisa berdaulat mengelola SDAnya sendiri?

Jika selalu dikuasai oleh pusat dengan dalih UUD pasal 33, maka selamanya Kaltim selalu menjadi sapi perah.

Saya ngeri membayangkan Kota Bontang tanpa suplai gas untuk 5 s/d 10 tahun mendatang. Bisa saja nasib Bontang akan serupa dengan Pulau Sambu.

Saya pernah sampaikan kepada Bunda Neni Walikota Bontang bahwa sudah saatnya Bontang melalui Perusdanya mendapat grand share 5% di Pupuk Kaltim. Bontang harus berani dan kalau perlu boikot ke Pusat atau Walikotanya tidak memberikan ijin kepada Pupuk Kaltim.

Bayangkan saja, perusahaan Petrokimia PKT ini membentuk konglomerasi dan koperasi. Karyawannya relatif sedikit belanja di pasar tradisional karena ada koperasi. Lalu sebesar apa kontribusi PKT ini utk Bontang? Karyawan yg direkrutnya saja mayoritas dari Universitas luar Kaltim. Ini yang saya sebut tidak berkeadilan bagi Kaltim sendiri.

Pernahkah surplus listrik PT Badak diberikan ke masyarakat Bontang? Jawabannya hanya mimpi. Lalu untuk siapa sebenarnya kekayaan SDA Kaltim ini?

Belum lagi saya melihat nasib Kutai Kartanegara. Kecamatan-kecamatan yang dilalui pipa gas Blok Mahakam sudah lebih dari 50 tahun tidak pernah terbangun sesuai dengan kekayaannya dan ini sangat ironis sekali.

Ketika Kukar mendapat Bupati yang sangat sosial kepada rakyatnya lalu Pusat seolah kebakaran jenggot mencari-cari kesalahan.

Akhirnya turun tim KPK bertindak terkesan mencari fakta hukum yang sekedar dicari-cari. Apakah Putra Daerah Kaltim tidak boleh maju, kaya atau terkenal?

Selalu saja didekatkan dengan isu korupsi. Ini pertanda pusat tidak akan pernah membiarkan Kaltim berdaulat karena Kaltim dianggapnya sapi perah yang penurut.

Begitupun booming sawit, hampir tidak pernah dijumpai di Kaltim ada hilirisasi Sawit. Semua CPO dibawa keluar Kaltim.

Pabrik-pabrik penampung CPO berada di pulau Jawa dengan pengolahan komoditas industri turunan CPO.

Kembali ke Kaltim dalam bentuk sabun, minyak, mentega… Ha ha ha ini sangat aneh. Kaltim yang memiliki lahan, justru Kaltim yang membeli produk akhirnya. Lalu kapan Kaltim berdaulat?

Industri pariwisata pun tidak pernah tergarap dengan baik. Kaltim tidak berhasil menarik wisatawan lokal maupun luar. Karena Kaltim sudah terbuai dengan manisnya industri SDA unrenewable dengan hasil yang tidak berkelanjutan.

Hal ini hanya untuk kenyamanan sesaat. Coba banyangkan puluhan milyar ton cadangan batubara Kaltim jika habis dieksploitasi, maka Kaltim hanya gigit jari dan akan terjadi hal yang sama seperti era kayu, emas, minyak dan gas juga yg sudah berakhir.

Masihkan Kaltim tidak sadar untuk segera mengubah haluan ekonominya. Kaltim sebaiknya lebih berorientasi kepada sustainable economic seperti memberdayakan usaha-usaha yang berbasis renewable.

Segera wujudkan ekonomi yang tangguh seperti ekonomi kreatif (termasuk pariwisata), hilirisasi industri sawit dan tingkatkan agroindustri yang mengandalkan lahan tidur.

Bangun dan kembangkan BUMD- BUMD dalam unit usaha berorientasi keunggulan komparatif seperti BUMD Batubara, Migas, Sawit, konstruksi dan lainnya untuk penambahan fiskal daerah.

Semoga dengan kemenangan Isran-Hadi, Kaltim akan mendapatkan pemimpin yang kreatif, tegas, cerdas dan tangguh untuk membawa perahu Kaltim ini menuju pulau harapan yaitu sebuah potret ekonomi baru Kaltim yang berdaulat serta memiliki bargaining position yang kuat terhadap pusat. (*)

loading...