Home / Indotimnews / OPINI: Nalar Politik Kaum Muda

OPINI: Nalar Politik Kaum Muda

Oleh : Zulfikar

Pembina FKP Bugis Berau (forum komunikasi pemuda bugis berau)

Memasuki tahun politik 2018 menuju tahun 2019 mendatang semakin menaikkan tensi politik nasional.

Bukan hanya bergeseknya ideologi politik dari kanan ke kiri demikian pula sebaliknya, maupun berkecamuknya polemic politik identitas yang terus menggiring opini publik yang kian tak terbendungi.

Bukan hanya itu, tetapi blaxk campaign semakin gencar dilakukan untuk membunuh nalar politik masyarakat. Bola salju ini terkesan menggelinding tanpa arah, laksana bola api yang akan menghanguskan semua dimensi kehidupan masyarakat berbangsa. Sehingga kondisi demikian, memungkinkan kaum muda tidak memilih diam di dalam rangka memngambil peran untuk sebuah bangunan nalar politik yang lebih sehat tanpa the political decay (pembususkan politik) yang akhir-akhir ini marak mewarnai panggung demokrasi.

Sehingga kaum muda di paksa oleh sejarah untuk berbenah diri untuk merespon setiap kondisi kebangsaan kita yang kian hari tergerus dengan berbagai polemik dan perdebatan.

Pemuda adalah masyarakat intelektual. Intelek dalam berbagai ranah meliputi keilmuan dan kemasyarakatan. Seperti yang pernah diungkapkan Antonio Gramsci dalam bukunya bertajuk Selections from Prison Notebooks (1971). Dalam salah satu paragrafnya, buku tersebut menjelaskan, semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual.

Tesis Gramsci tersebut yang selalu menjadi inspirasi bagi Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh setiap berpidato di anak-anak muda. Menurut Surya Paloh, jika kelompok muda kita benar-benar pembawa misi perubahan bagi lingkungan sosialnya berarti mereka termasuk bagian dari masyarakat intelektual yang memfungsikan nalar intelektualnya.

Bukan hanya Surya Paloh yang kerap menyuarakan itu, tetapi sejarah bangsa ini telah terbukti dengan kekuatan kaum muda maka Indonesia bisa merdeka.

Walau antara kaum tua dan kaum muda terlibat dalam pertentangan klasik. Bahkan pidato Soekarno pun selalu mengangkat tema anak-anak muda. Nah karena itu“Anak muda adalah agent of social controll, sehingga dalam setiap aksinya aspek intelektual merupakan pranata penting yang menentukan kadar kualitas gerakan.”

Posisi pemuda dalam kancah demokratisasi pemerintahan berada pada tempat yang strategis, ia berada di tengah-tengah antara kelompok elit politik, kapital, dan masyarakat sipil.

Kondisi ini memberikan ruang bagi pemuda untuk berafiliasi dalam pemerintahan secara langsung. Sehingga momentum sekarang, bermula dari proses demokratisasi yang belum sepenuhnya utuh, kepemimpinan kaum muda bergerak dan berjuang mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkeadilan, tentram dan damai. Dengan tidak melewati jalan politik praksis namun dengan jalan politik horizontal dengan memegang teguh pada komitmen bukan pragmatisme.

Tetapi berada di tengah-tengah basis masyarakat dan membebaskan basis tersebut.

Karena itu, kepemimpinan politik anak muda mesti ditujukan untuk mengangkat isu-isu marjinal yang selama ini berada di luar mainstrem wacana gerakan sosial sembari meneguhkan posisi oposisi terhadap dominasi domain-domain publik. Sebab publik adalah ruang ekspektasi dalam bergeraknya ritme demokrasi secara baik.

sehingga wajah konsepsional ini merupakan abstraksi sosial dalam proses transformasi wacana keagamaan, intelektualitas, serta humanitas di tengah pertarungan identitas-identitas lokal dengan hegemoni globalisme. Dengan demikian, gerakan intelektual yang ideologis, kritis, dan politis harus menjadi jangkar sekaligus corong kekuatan gerakan sosial yang menyuarakan gerakan perlawanan, pemihakan, advokasi, sekaligus wacana tanding terhadap dominasi kebijakan-kebijakan politik domestik maupun global.

Nah, peran-peran ini hanya bisa dilakukan oleh anak muda. Anak muda yang progresif, punya nalar politik dan intelektual yang kuat.
Karena wilayah tugas pemuda bukan semata di atas kertas atau sekedar mentransformasikan ide dan gagasan di ruang kuliah.

Pemuda yang bernalar politik-intelektual harus memerankan diri sebagai mediator, legitimator serta memproduksi gagasan untuk sekaligus dibumikan ke ruang-ruang sosial. Drngan demikian ruang politik menjadi sarana untuk meneruskan transformasi gagasan politik yang lebih baik demi membangun demokrasi yang lebih bermartabat.

Sebab Indoensia memiliki jangkar kebudayaan yang demikian besar, sehingga ini sangat memungkinkan terjadinya pelahiran kultur demokrasi dan politik yang jauh lebih elegan di tangan kaum muda.

Kaum muda tak boleh lagi terjebak pada stigma agent perubahan tetapi memilih diam, kaum muda harus bergerak dan agresiv didalam mendorong gagasan yang konstruktif demi pembangunan peradaban politik yang lebih baik. Bonus demografis sebagai basis usia produktif kaum muda adalah ruang kontekstasi di dalam merebut panggung dan ruang politik sebagai jalan perjuangan. ***

loading...