Home / Indotimnews / Opini: Sertifikasi Kelar

Opini: Sertifikasi Kelar

Oleh : Muh. Quraisy Mathar
(Kepala Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin)

Alhamdulillah, selesai sudah target prioritas saya. Perpustakaan UIN Alauddin sudah menerima hasil penilaian visitasi berbentuk selembar kertas sertifikat dengan label nilai “A” dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Ada 6 komponen yang dinilai oleh para assessor terkait dengan akreditasi itu sendiri, yakni; komponen koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan, serta komponen penguat.

Pengalaman saat menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora-UIN Alauddin, dan mengantar jurusan tersebut meraih peringkat akreditasi dari nilai “C” menjadi “B”, sudah cukup menjadi pijakan awal buat saya dalam memimpin UPT Perpustakaan UIN Alauddin.

Pengalaman bergumul dengan borang akreditasi program studi di Fakultas memberi sebuah pelajaran berharga, khususnya dalam urusan visitasi dan akreditasi. Setelah sempat menjadi pendamping tim penyusun borang akreditasi, serta ikut mendampingi saat sesi visitasi di UPT Perpustakaan IAIN Parepare, yang awalnya belum terakreditasi hingga memperoleh nilai akreditasi “B”, saya kemudian fokus untuk menuntaskan pekerjaan rumah terakhir saya di UPT Perpustakaan UIN Alauddin.

Sejatinya, borang akreditasi perpustakaan sebetulnya sudah saya rintis sejak awal berkantor. Pertama kali memasuki ruangan kerja sebagai Kepala Pusat UPT Perpustakaan, saya langsung mencari sertifikat akreditasi perpustakaan. Seorang staf kemudian menyetor sertifikat akreditasi berbingkai dengan label “B”.

Saya kemudian mencoba menelusuri borang akreditasi yang seharusnya ikut mendampingi sertifikat tersebut. Namun borang akreditasi yang lama tersebut ternyata tak kunjung ditemukan.

Padahal borang sebelumnya tentu akan sangat membantu proses evaluasi untuk perbaikan nilai akreditasi selanjutnya.

Ketersediaan hasil penilaian visitasi terdahulu sebetulnya merupakan dasar untuk memulai kegiatan persiapan re-akreditasi selanjutnya.

Akhirnya, saya harus memulai pengerjaan borang dari awal kembali. Saya kembali mengintip 6 komponen borang akreditasi perpustakaan perguruan tinggi dan mulai menyusun rencana kerja yang berorientasi kepada 6 komponen tersebut.

Tentu sangat-sangat tak mudah, sebab keberpihakan alokasi anggaran maupun kebijakan lembaga pendidikan tinggi secara umum di Indonesia terhadap perpustakaan sebetulnya masih sangat mengenaskan.

Terlalu jauh memang untuk membandingkan alokasi anggaran seluruh perpustakaan perguruan tinggi di Amerika yang oleh pemerintahnya ditetapkan sebanyak 52% dari total anggaran perguruan tinggi per tahun. Namun alokasi anggaran maksimal 5% sesuai yang dipersyaratkan oleh Standar Nasional Perpustakaan pun ternyata juga masih tidak terpenuhi.

Perpustakaan tetap dijadikan simbol semata, disebut sebagai jantung perguruan tinggi, namun hanya sebagai jantung koroner yang bisa dicangkok dan disulap setiap saat.

Selesai sudah tugas terakhir saya, walaupun rutinitasku tentu belum berakhir. Kutitip sertifikat terbaru perpustakaan untuk dire-akreditasi kembali pada tahun 2023 nanti.

Kini saya mulai mengintip ISO 11620:2008 sebagai ukuran kinerja perpustakaan dalam standar internasional.

Tahun depan harus kuupayakan untuk terealisasi, walau hitungan waktu jabatanku sepertinya tak akan cukup. Jika pun nantinya tak selesai, setidaknya upaya tersebut akan menjadi pijakan instrumen awal buat pejabat pengganti saya nanti. Biarlah pejabat baru itu nantinya merangkai kisahnya sendiri.

Ada kawan yang berkata “oppo maki, menjabatlah kembali”. Maaf, tidak ada selera incumbent dalam kamus hidup saya, sebab usia jabatan menurutku sejatinya hanya sekali saja. Berbuatlah, lalu beregenerasilah dengan cepat, sebab sekecil apapun sebuah perubahan, pasti akan bermakna. Akhirnya, saya bisa pulang ke rumah dengan langkah yang lebih enteng, Alhamdulillah. (*)

loading...