Opini: TahunBaru Islam, 1 Muharram bukanlah hari besar

oleh -148 views

images(2)(Dari: Musni Japrie )

Perputaran waktu dari tahun ketahun berikutnya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. Banyak sekali kejadian dan kenangan selama perputaran waktiu tersebut yang semestinya membuahkan pelajaran berharga bagi kita semua. Detik-detik pergantian akhir tahun adalah saat –saat yang sangat bersejarah dalam lembaran umat manusia , sehingga menjadikan sebagian orang menyelenggaraan berbagai kegiatan yang terkait dengan pelepasan dan penyambutan tahun baru. Begitu juga sebagian masyarakat muslim tidak mau ketinggalam dalam menyambut tahun baru 1 Muharram.

Sebenarnya ebelum era tahun Sembilan puluhan masyarakat muslim di Indonesia belumlah banyak melakukan kegiatan penyambutan tahun baru Islam yang ditandai dengan dimasukinya tanggal 1 Muharram, namun setelah era tersebut dengan didorong dan dipelopori oleh beberapa orang mulailah ada gerakan untuk memasyarakatkan penyambutan dan peringatan tahun baru islam tgl 1 Muharram. Akhirnya setelah beberapa tahun kemudian maka berkembanglah secara signifikan setiap dimasukinya tahun baru islam masyarakat islam di Indonesia menyambut kedatangan tanggal 1 Muharram yang dimulai saat terbenamnya matahari tanggal 30 Dzulhijjah. Berbagai kegiatan dilakukan antara lain dipasangnya spandukp-spanduk menyambut tahun baru,diadakannya pawai dan karnaval, perlombaan-perlombaan, pengajian khusus dan termasuk berbagai ibadah lainnya yang dilakukan dimasjid-masjid dan surau dengan pembacaan doa akhir tahun serta doa awal tahun yang sebelumnya tidak ketinggalan membaca surah yasin secara berjamaah.

Karena dimana-nama diselenggarakan aktifitas penyambutan dan perayaan tahun baru islam maka pada umumnya masyarakat muslim di negeri ini menganggap bahwa tanggal 1 Muharram sebagai sebagai awal dimasukinya tahun baru islam merupakan hari besar islam yang patut disambut secara meriah dan dirayakan layaknya hari besar. Sehingga patut disambut dengan rasa suka cita dan riang gembira.

Berkaitan dengan itu maka dengan akan dimasukinya tahun baru islam yang diawali dengan dimasukinya tanggal 1 muharram maka agar masyarakat tidak keliru dan salah kaprah maka dipandang perlu untuk kembali mengingatkan kepada semua kalangan bagaimana menyikapinya dipandang dari sudut pandang syari’at islam.

Tahun Baru 1 Muharram Bukan Hari Besar Islam

Sudah menjadi budaya dan tradisi di kalangan masyarakat Islam di Indonesia untuk menyambut dan memperingati apa yang disebut sebagai hari besar Islam, sehingga dalam penanggalan/almanak Indonesia pada setiap tanggal terjadinya sesuatu peristiwa yang diyakini berkaitan dengan sejarah islam dinyatakan libur kerja oleh Pemerintah, seperti hari kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, Isra mi’raj, Nuzul Qur’an, tahun baru Hijrihya dan lain-lainnya. Sehingga sebagian besar kalangan masyarakat islam menganggap dan menjadikan tahun baru Islam 1 Muharram sebagai hari besar yang patut untuk disambut dan dirayakan. Meskipun sebenarnya hari-hari yang disebutkan sebagai hari besar tersebut tidak berdasarkan syari’at Islam.

Sesungguhnya tahun baru hijriyah meskipun secara maknanya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun baru agama lain, seperti tahun baru masehi, tahun baru agama hindu, tahun baru waisak untuk agama budha, dan tahun baru Cina/Imlek, namun secara subtansinya sangatlah berbeda, karena tahun baru bagi agama-agama lainnya berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah keagamaan. Sedangkan untuk tahun baru Islam 1 Muharram samasekali didalamnya tidak ada hal-hal khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah.

Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiyah menyebutkan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum muslimin, yang pada keduanya hari tersebut mereka berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha sebagai pengganti hari raya –hari raya jahiliyah. Disamping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah Subhanahu Wata’ala tidak mensyariatkan perayaan –perayaan hari kelahiran, tidak untuk hari kelahiran Nabi dan tidak pula untuk perayaan lainnya.

Mengingat syari’at Islam telah menetapkan hari-hari besar tahunannya seperti 2 hari raya, dan hari raya mingguannya di hari jum’at maka tidak sepatutnya kita menetapkan sendiri bahwa tahun baru 1 Muharram sebagai dimulainya kalender hijriyah sebagai hari besar, yang kemudian di dalamnya dilakukan berbagai kegiatan ibadah serta kegiatan penyambutan yang meriah, sebagaimana kaum agama lain menyambut tahun baru mereka.

Tahun baru Tandingan?

Akhuna Syarif Mustaqim Abu Sulaiman dalam SALAFIYUNPAD™ , menyebutkan bahwa pada jaman sekarang banyak orang-orang mulai menambah-nambah hari raya yang seharusnya bukan hari raya. Contoh mudahnya, bila bulan Muharrom tiba maka ada sebagian umat Islam yang merayakan tahun baru Islam. Alasan mereka, kalau dalam penanggalan masehi itu ada istilah tahun baru tempat orang-orang bersuka cita dan gembira, bahkan malah dipenuhi dengan banyak acara kemaksiatan, lalu mengapa kita tidak membuat tandingannya? Kita buat saja tahun baru Islam berdasarkan penganggalan hijriyah, kemudian diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan terkait dengan hari itu?

Nampaknya niat tersebut sekilas terlihat baik. Namun perlu untuk diketahui, tidak setiap niat baik itu akan mendatangkan kebaikan. Seluruh ibadah yang kita laksanakan harus ada contoh dan teladan dari Nabi kita. Hal ini karena beliaulah yang Allah utus untuk menjelaskan tatacara ibadah yang benar dan diterima. Konsekuensinya, tidak ada kreatifitas dalam bentuk ibadah. Jika seseorang berinisiatif membuat cara sendiri maka dia akan terjatuh dalam kebid’ahan. Hukum perkara bid’ah adalah dosa. Maka kewajiban bagi setiap muslimn untuk beragama berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan shahih, hal ini sebagai dasar pelaksanaan ibadah dalam Islam

Begitu pula Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, ST dalam Artikel http://rumaysho.com menyebutkan bahwa dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”

Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.

Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah

Penyambutan Dan Perayaan Tahun baru Hijriyah 1 Muharram Termasuk Perkara Baru Dalam Agama

Mengingat bahwa dimulainya penanggalan dalam Islam mengacu kepada dilakukannya hijrah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan sangat terkait dengan syari’at maka penyambutan dan merayakan tahun baru hijriyah 1 Muharam yang tidak disyari’atkan adalah merupakan perbuatan mengada-ada yang bertentangan dengan sunah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Dr.Said bin Ali bin Wahf al-Qahtahni menyebutkan bahwa syarat-syarat diterimanya amalan yang bertujuan untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah, hanya dapat diterima bila :
1.Mengikhlaskan amalan untuk Allah semata yang tidak ada sekutu baginya.
2. Mencontoh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dalam beramal.
Orang yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah dalam melakukan ibadah itu ia mencontoh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, maka amalannya akan diterima. Sementara orang yang kehilangan keikhlasan dan kehilangan itti’ba kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, atau kehilangan sakah satu dari keduanya, maka amalannya itu akan tertolak.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah al-Maidah ayat 3 yang artinya :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini . orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dari ayat tersebut diatas maka para sahabat,tabi’in,tabi’ut tabi’in dan seluruh ulama salaf memaknai dan menafsirkan bahwa agama islam sejak turunnya ayat tersebut telah disempurnakan oleh Allah Subhana wa ta’ala. Al-Qur’an sebagai kumpulan kalamullah telah secara rinci dan lengkap untuk dijadikan panduan dasar umat islam dalam menjalani hidupnya. Tidak ada satupun yang tertinggal.
Ayat tersebut diperkuat lagi dengan hadits Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam yang artinya :
Dari Muththalib bin Hanthab : Sesungguhnya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam telah bersabda : “ Tidak aku tinggalkan sesuatupun/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya telah aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinmggalkan kepada kamu sesuatupun/sedikit pun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya. “( Hadits ini di keluarkan oleh asy-Syafi’iy di kitabnya ar Risalah dan B ahaiqiy dikitab Sunannya
.
Dari riwayat yang shahih bahwa seorang yahudi pernah berkata kepada salah seorang sahabat Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam, bahwa agama islam itu sangat lengkap sampai-sampai cara beristinja’ pun diajarkan.
Dari riwayat tersebut sangat jelas tersirat makna bahwa hal yang kecil/sepele saja seperti beristinja’ setelah membuang hajat besar diajarkan apalagi hal-hal yang prinsif seperti yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah tentu lebih jelas dan lengkap lagi.
Dari ayat al-Mai’dah dan hadits tersebut diatas secara terang dan bukti memberikan penjelasan kepada kita,bahwa agama kita ini( al-Islam) telah sempurna.Sehingga dia tidak memerlukan segala bentuk tambahan dan pengurangan sedikitpun juga.
Sebagai umat islam yang mengakui bertauhid kepada Allah dan mengakui Muhammad Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul panutan kita, maka kewajiban bagi kita untuk ta’at dan mencintai beliau.
Tidak ada cara dan alternatif lain yang wajib ditempuh setiap insan muslim selain mematuhi apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam, sebagaimana yang sering disebut-sebutkan yaitu as-sunnah Rasul.
Allah berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“ Katakanlah,jika kalian benar-benar mencintai Allah,maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagiMaha Penyayang “ ( QS.Ali Imran : 31 )

Diantara larangan-larangan yang wajib dipatuhi oleh seorang muslim adalah larangan berbuat bid’ah, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam ::

صحيح مسلم ٣٢٤٢: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَوْنٍ الْهِلَالِيُّ جَمِيعًا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Shahih Muslim 3242: Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Shabah dan Abdullah bin ‘Aun Al Hilali semuanya dari Ibrahim bin Sa’d. Ibnu Shabah berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf telah menceritakan kepada kami ayahku dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak.”

Dihadits lain disebutkan :

صحيح البخاري ٢٤٩٩: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَبِي عَوْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ

Shahih Bukhari 2499: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”. Diriwayatkan pula oleh ‘Abdullah bin Ja’far Al Makhramiy dan ‘Abdul Wahid bin Abu ‘Aun dari Sa’ad bin Ibrahim.

Bid’ah adalah hal yang baru dalam agama setelah agama itu sempurna . Atau sesuatu yang dibuat-buat setelah wafatnya Nabi shallalahu’alahi wa sallam berupa keinginan nafsu dan amal perbuatan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengungkapkan bahwa :

“ Bid’ah dalam islam, adalah : segala yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya,yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib atau berbentuk anjuran “
Sedangkan Imam Asy-Syathibi rahimahullah menyebutkan bahwa :

” Bid’ah itu adalah satu cara dalam agama ini yang dibuat-buat, bentuk menyerupai ajrahn syari’at yang ada, tujuannya dilaksanakannya adalah untuk b erlenih-lebihan dalam ibadah kepada Allah “.
.
Rasulullah shallalahu’alahi wa sallam bersabda :
“Amma ba’du ! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah ( al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallalahu’alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats) dn setiap muhdats adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Syarat diterima amalan ibadah apapun itu ada dua, yaitu ikhlas dan ittiba’ (sesuai tuntunan Rasulullahsholallahu‘alaihi wasssalam). Tahun baru sekalipun dengan penanggalan hijriyah adalah sesuatu yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabat beliau. Jika perayaan tahun baru Islam adalah boleh mengapa tidak ada para sahabat yang melakukannya? Padahal tidak ada kebaikan yang ditinggalkan begitu saja dan tidak dilaksanakan oleh para sahabat. Andaikan ada satu kebaikan walaupun itu sebesar biji sawi, niscaya mereka akan mendahului kita melaksanakannya. Sedangkan hukum perkara bid’ah adalah terlarang dan tertolak, kita tidak diperbolehkan melakukan perkara bid’ah dalam hal agama. Hal ini karena Islam adalah agama yang sempurna, tidak perlu penambahan dan pengurangan.

Sumber: http://avanyogatama.blogspot.co.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.