Pilkada Sulsel 2015: Sejumlah Incumbent Sulit Dikalahkan?

oleh -253 views

pilkadaIndotimnews.com– Syahwat politik para wakil bupati (wabup) menumbangkan bupati incumbent masih sulit terpenuhi di Pilkada 2015. Ini sudah terbukti pada sejumlah pesta demokrasi di kabupaten/kota, terkecuali pada Pilgub Sulsel 2007.

Sepanjang sejarah pilkada langsung, memang belum ada wakil bupati yang sukses menumbangkan incumbent. Misalnya pada pilkada serentak 2013 lalu. Keinginan Amran mengalahkan Burhanuddin Unru (Pilkada Wajo) hanya sebatas mimpi. Begitupun dengan Andi Kaharuddin yang harus takluk melawan Aslam Patonangi di Pilkada Pinrang.

Fakta lainnya saat A Fahsar Padjalangi melawan Idris Galigo di Pilkada Bone 2008. Fahsar baru bisa terpilih sebagai bupati saat Idris tidak lagi mencalonkan. Di Pilkada Luwu, libido Syukur Bijak melengserkan A Mudzakkar pun harus pupus.
Manager Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI), Irfan Jaya mengatakan, peluang keterpilihan incumbent di setiap kontestasi pilkada lebih besar lantaran memiliki keunggulan investasi sosial dan politik yang lebih riil selama lima tahun menjabat sebagai kepala daerah.

Selain itu, regulasi dalam perppu yang mengsyaratkan pilkada tanpa sistem paket akan lebih menjadikan incumbent memiliki tingkat keterpilihan yang lebih besar.

Meski begitu, peluang wakil bupati menumbangkan bupati masih terbuka di Pilkada 2015 menyusul adanya aturan pilkada tanpa paket. Seperti di Pilkada Luwu Utara antara Arifin Djunaidi (bupati) dengan Indah Putri Indriani (wakil bupati). Isyarat pertarungan dua figur ini ditandai dengan perebutan tiket di PDIP. Jika nantinya Indah kalah bersaing memperebutkan rekomendasi PDIP, tidak menutup kemungkinan Gerindra akan mengusungnya.

“Di Luwu Utara bisa saja lebih menarik pertarungan antar incumbent bupati dan wakil bupatinya. Bisa saja pertarungannya antara PDIP, Gerindra, dan Golkar,” kata Irfan Jaya, Senin (12/1).

Peluang serupa juga terlihat di Pilkada Barru. Incumbent Idris Syukur bisa saja mendapatkan rivalitas berat dari wakilnya, Andi Anwar Aksa jika mendapatkan rekomendasi Partai Golkar sebagai partai pemenang di Pileg 2014. “Jadi pemilihan tanpa paket ini bisa saja menjadi rivalitas antar incumbent bupati dan wakil bupati di Barru untuk berebut suara,” jelasnya.

Beda halnya di Pilkada Pangkep. Peluang incumbent Syamsuddin Hamid terpilih kembali bisa saja lebih besar jika mendapatkan rekomendasi Partai Golkar. Partai beringin ini meraih 10 kursi di Pileg 2014.

“Sama halnya di Toraja. Peluang keterpilihan Theofillus Allorerung masih sangat besar mengingat Golkar menang mutlak dengan meraih 7 kursi. Dengan catatan, Golkar masih mengusung Theofillus,” ucapnya.

Sementara di Pilkada Maros, kemenangan PAN di Pileg 2014 membuat incumbent Hatta Rahman diprediksi sulit dikalahkan jika maju kembali. “Kemenangan mutlak PAN dengan meraih 10 kursi dan prestasinya selama ini paling mudah diukur. Karena selain PAN menang telak di pileg lalu, prestasi Bupati Maros Hatta Rahman cukup signifikan dalam lima tahun terakhir memajukan Maros,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Adhyaksa Supporting House Irfan AB turut mengamini jika peluang incumbent yang berpotensi besar kembali melenggang saat ini masih dimiliki oleh Bupati Maros Hatta Rahman. Dia menuturkan, hasil survei lembaganya masih mengunggulkan Hatta Rahman karena tingkat kepuasaan masyarakat dalam kepemimpinannya cukup memuaskan.
“Kalau di Maros Hatta Rahman masih superior untuk kandidat incumbent. Survei terakhir kami di sana tetap mengunggulkan Hatta dengan tingkat kepuasan masyarakat cukup tinggi di Maros,” katanya.

Beda halnya dengan pilkada di Kabupaten Luwu Utara, Toraja, Barru, dan Pangkep. Irfan AB menegaskan, para kompetitor masih tetap punya peluang untuk menaklukkan dominasi incumbent. Dia menuturkan para wakil kepala daerah seperti Indah Putri Indriani di Luwu Utara, Andi Anwar Aksa Barru serta Wakil Bupati Pangkep Abdul Rahman Assegaf.

“Khusus tiga daerah itu, wakil bupatinya berpeluang besar menumbangkan dominasi incumbent. Namun itu tergantung dari parameter survei mereka dalam mengukur tingkat keterpilihannya,” tandasnya.

Peran Caretaker
Lima incumbent yang akan bertarung di pilkada serentak di Provinsi Sulsel dinilai akan kewalahan menghadapi penantangnya. Pasalnya, masa jabatan para incumbent akan habis sebelum pencoblosan.

“Kalau pilkada dilakukan di akhir 2015, maka peluang incumbent akan sama dengan penantangnya. Karena incumbent tidak lagi bisa mengerakkan infrastruktur pemerintahan lantaran masa jabatan sudah habis,” kata Pakar Politik dari UIN Alauddin, Firdaus Muhammad.

Dijelaskan, peran caretaker akan mempersulit incumbent dalam mengerakkan aparat birokrasi sebagai tim pemenangan. Bahkan bisa saja ada non incumbent yang mendapat bantuan pemenangan jika yang bersangkutan memiliki kedekatan dengan caretaker.

Bukan cuma itu. Kinerja incumbent di periode pertamanya juga menjadi dasar untuk kembali berpeluang terpilih. “Kalau di periode pertamanya kerjanya bagus dan rakyat puas, maka meskipun diundur peluang itu tetap ada. Berbeda jika kinerjanya buruk maka itu bisa membahayakan para calon utamanau incumbent,” tandasnya. (Ahmad)

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.