Pimpinan UMI hadiri Haul KH Ramly Pejuang NU dan Pendiri UMI

oleh -43 views

MAKASSAR– Haul Para Pejuang NU diadakan berkat kerja sama antara PBNU dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).

Tampak hadir Rais ‘Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar; Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf; Sekjen PBNU, H Helmy Faishal Zaini; Wakil Ketua MPR RI, Muhaimin Iskandar; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir; dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif

Hadir dari UMI , Ketua Pembina yang juga putra KH Muhammad Ramly, Prof. Dr. H Mansyur Ramly, SE MSi., Ketua Pengurus Yayasan wakaf UMI, H.M Mokhtar Noer Jaya SE MSi, Wakil.Ketua Pendidikan YW UMI Prof. Dr Hj Masrurah Mokhtar MA, Sekertaris Pengurus Dr Ir H Lambang Basri MT, Sekretaris Pengawas.Prof. Dr H Syahrir .Mallongi SE MSi
Rektor UMI Prof. Dr H Basri.Modding SE Msi Wakil Rektor
Asdir II PPs UMI Prof. Dr H Sufirman.SH MH

Adaoun tempat pelaksnaan Kantor.PBNU Jakarta, 10 April.2019

Sambutan Wakil.Ketua MPR RI
Haul dikalangan NU hal biasa, namun haul malam ini memiliki keistimewaan dilaksanakan untuk para pejuang NU yang dalam hidupnya berperan aktif di kancah nasional.

“Kadang kita tidak pernah ingat atas jasa beliau , karena itu malam ini kita hadir untuk mendoakan beliau secara berjamaah, insya Allah mendapatkan tempat yang layak disisiNya,” ucapnya.

Insya Allah pasa Bulan Juli 2019 di Gedung MPR yang memuat 7000 kita akan ge lar Haul Pejuang NU. para ulama masyahid insya allahdiharapkan mengalir pahalanya.

294 ulama yang tercacat dalam backdrop telah berkiprah.untuk kejayaan NU.kami yakin masih banyak ulama para tokoh yang dalam hidupnya telah berjuang untuk NU, duta besar yang memperjuangkan NU.

“Karena itu tidak hanya 294 tapi seluruh ulama, tokoh agama tokoh.masyarakat yang telah berjuang untuk kejayaan NU, kita semua berdoa dalam cahaya di sisi allah di syurga berkumpul bersama
Haul untuk pejuang NU? pejuang bangsa dan negara akan menjadi agenda tahunan.kita berkumpul dan berdoa insya Allah dikabulkan
semua perjuangan beliau mendapatkan rahman dan rahim Allah SWT
Bangsa yang besar menghormati para pahlawannya,” ucapnya.

Dikelaskan, NU makin besar menghormati ulama-ulamanya.
siapapun yang memperjuangkan NU akan jadi murid mbah hasyim dan menjadi husnul khatimah.
jayalah NU jayalah aswaja jayalah indonesia raya

Sementara sambutan Ketua Umum.PBNU NU Prof. Dr Agil.Siradj
MA, ada dua hal yang harus diperjuangkan nahdliyin, yakni membangun himmah dan azimah. Sementara dalam diri manusia terdapat dua jenis hawa nafsu yang menjadi perangkat, yakni nafsu ghadlabiyah dan syahwatiyah.

“Kita ini yang kurang membangun himmah dan membangun azimah.Nafsu ghadlabiyah merupakan ambisi yang besar, seperti menjadi pejabat, ketua umum partai politik, ataupun ketua umum organisasi. Tetapi, jika seseorang mempunyai niat, cara dan tujuan yang baik terhadap ambisi tersebut, maka dinamakan himmah,” terang Said Aqil.

“Kalau niatnya baik, kalau caranya baik la tadzlimun wa la tudzlamun, gak nyakitin siapa-siapa; dan tujuannya baik maka ketika berhasil menjadi yang kita mauin, (namanya) bukan nafsu ghadlabiyah, (tapi) namanya himmah,” tambahnya.

Sementara nafsu syahwatiyah ialah ambisi untuk memiliki banyak harta, seperti mempunyai perusahaan, rumah mewah, dan kendaraan yang bagus, tetapi kalau niat, cara, dan tujuannya baik tidak lagi disebut dengan nasfu syahwatiyah, melainkan azimah.

Sebelumnya Kiai Said menegaskan bahwa pembacaan tahlil untuk para pejuang NU diterima Allah Swt. Sebab,  rahmat Allah terbuka. Allah menerima amal hamba-Nya sekalipun amalnya tidak sempurna.

Ia juga menyakini bahwa kelak di akhirat, Nahdliyin berkumpul dengan para pejuang NU, seperti Mbah Hasyi Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri, dan KH Romli.

“Kita yakin, kita ini min ahlil haq. Insyaallah min ahlil Jannah, ikut beliau-beliau yang telah berjuang untuk NU,” ucapnya.

Demikian Rektor UMI, Prof. Dr H Basri Modding SE MSi, menilai kehadiran dalam haul ini memenuhi undangan PBNU. salah seorang pendiri NU, almarhum almukarram KH Muh.Muhammad Ramly juga Pendiri NU.ayahanda dari Bapak Prof. Dr. H Mansyur Ramly, SE Msi, Ketua Pembina Yayasan wakaf UMI

“Kelahiran UMI berawal dari keprihatinan dan kegelisahan para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja di Sulawesi, khususnya di Makassar, karena belum adanya perguruan tinggi Islam ketika itu, sedang penduduknya mayoritas muslim,” papar rektor.

Dikatakan, pada pertengahan tahun 1952, ide untuk mendirikan perguruan tinggi Islam sudah mulai bergulir, beberapa tokoh masyarakat menghubungi para raja di daerah ini, seperti H. Andi Mappanyukki (Raja Bone), H. Andi Jemma (Raja Luwu) Andi Ijo Karaeng Lalolang (Raja Gowa) dan Pajonga Karaeng Polongbangkeng (orang terkemuka di daerah Polongbangkeng), Disamping itu rencana tersebut juga disampaikan kepada Gubernur Sulawesi dan Walikota Makassar, ternyata gagasan itu disambut baik dan para raja dan pemerintah siap untuk membantu mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

“Kehawatiran mereka mulai sirna ketika para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja (pemerintah) di Sulawesi sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang bernama Universitas Muslim Indonesia, ” tambahnya.

Peresmian pendirian UMI dilakukan di Gubernuran Makassar pada tanggal 23 Juni 1954 bertepatan dengan 22 Syawal 1373 H, yang ditandai dengan penandatangan Azas Piagam Pendirian UMI oleh K.H. Muhammad Ramly (Dewan Mahaguru), La Ode Munarfa (Dewan Kurator), Sutan Muhammad Yusuf Samah (Badan Wakaf) dan Chalid Husain (Sekretaris), disaksikan oleh S.N. Turangan (Wakil Menteri P dan K), H. Muhammad Akib (mewakili Kementrerian Agama), Andi Burhanuddin (mewakili Gubernur Sulawesi), serta Ahmad Dara Syahruddin (Walikota Makassar).

UMI yang dibina oleh Yayasan Wakaf UMI dengan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah mengemban tugas melahirkan sumberdaya manusia yang berilmu amaliah beramal ilmiah dan berakhlakul karimah. (#)