Ratusan mahasiswa bakal unjukrasa peringati Hari Keperawatan seDunia

oleh -170 views

IMG_20160512_015327Makassar–  Dalam rangka memperingati Hari Keperawatan Sedunia yang jatuh pada tanggal 12 Mei 2016,  Persatuan Mahasiswa Keperawatan Indonesia akan melakukan aksi di ujung bundaran Jalan .A.Pettarani, dengan jumlah massa ratusan.

Jenderal Lapangan aksi,  Trykenyo dalam rilisnya mengatakan,  bahwa Dalam aksi memperingati momentum Hari Perawat Sedunia kali ini Persatuan Mahasiswa Keperawatan Indonesia (PMKI) akan menuntut beberapa hal, salahsatunya meminta kepda Pemerintah agar segera menghapuskan ujian kompetensi Alumni keperawatan yang dinilai diskriminatif terhadap alumni keperawatan.

“Pelaksanaan Ujikom benar-benar tidak menghargai individu lulusan dan tidak menghargai perguruan tinggi yg meluluskan. Pada dasarnya perguruan tinggi atau kampus meluluskan atau mewisuda mahasiswa-mahasiswinya dengan alasan yang kuat yaitu bahwa para mahasiswa telah melalui proses pendidikan selama 3 tahun bagi D3 atau 5 tahun bagi Ners (termasuk didalamya berbagai ujian teori dan ujian praktek) hingga mereka diberikan sebuah Sertifikat/Ijazah sebagai tanda sah punya kemampuan/kompetensi sebagai seorang perawat,” jelas jnderal lapangan PMKI.

Iapun menambahkan, Ujikom tidak menunjukkan efek kualitas yang baik malah merugikan perawat. Jika ingin bertujuan meningkatkan kualitas perawat gampang, tinggal instruksikan saja kepada institusi keperawatan untuk menyeleksi betul calon mahasiswanya. Karena terkadang institusi hanya mengejar kuantitas demi keuntungan. sedang kualitas itu diabaikan dan pada  akhirnya mahasiswalah yang jadi korban.

“Uji Kompetensi mungkin saja ada benarnya, dan tidak akan ditakuti kalau pelaksanaannya tepat. Tapi tidak ada jaminan untuk itu dengan pelaksanaan yang sekarang inia ambrul. Terlihat sepertinya didasrkan pada kepentingan oknum tertentu termasuk lembaga LPUK. Terkesan mengintervensi lembaga lain seperti PT/kampus yang mana semestinya Kompetensi Lulusan menjadi Otonomi kampus, bukan otonomi lembaga lain,” tutur Trykonyo.

Itulah bedanya Kompetensi Lulusan dengan Kompetensi Kerja kata Trykenyo, tapi nyatanya mereka intervensi. Padahal sesuai amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa Perguruan Tinggi berhak menetapkan persyaratan kelulusan peserta didik alias menjadi otonomi perguruan tinggi.

“Artinya, kalau ada lembaga lain dari luar spt LPUK atau Lembaga Independent yang mengintervensi dalam penentuan kelulusan peserta didik di institusi pendidikan Tinggi, sama halnya menggagalkan UU SISDIKNAS yang sampai saat ini masih berlaku.
yang harus dibenahi intitusinya. Ga cuma sekedar ngajar lalu dapet uang. Jadi klo emang intitusi udah bagus, outputnya juga pasti bagus,” jelasnya.
lanjutya, sebenarnya tak  perlu ada Ujikom dan jangan jadikan segala sesuatu lahan bisnis hanya untuk alasan profesionalitas. Belum tentu yang tidak lulus Ujikom tidak bisa merawat pasien.

“Banyak senior – senior kita yg tanpa Ujikom sampai skarang tetap setia melayani pasien. Ilmu perawat itu lebih sering dengan pc makin mantap ilmunya, Bukan gara – gara Ujikom yang musti harus nunggu ujian lagi dan lulus baru bisa kerja. Akhirnya banyak karna panggilan jiwa ingin mengabdi cuman jadi tenaga sukarela.

Laporan: Awal

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.