Saat lebaran, harga BBM melambung tinggi di Tidore, pemerintah cuek. Kok bisa yah?

oleh -193 views
Ilustrasi
Ilustrasi

Tidore–  Sebuah tradisi buruk yang kerap dilakukan oleh penjual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium apabila memasuki hari raya idul fitri bagi umat muslim di kota Tidore kepulauan.
Bagaimana tidak, BBM yang diharapkan dapat terjual sesuai harga standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan biaya per liter senilai Rp. 8 Ribu, hanya saja amatan Indotim.com sejak dimulainya pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1437 hijriyah yang dilaksanakan pada Rabu 6 juli 2016 kemarin disetiap depot-depot atau pangkalan bensin sudah mulai melakukan penimbunan BBM dengan menaikan harga BBMnya per liter capai Rp. 10 Ribu, dengan alasan menghabiskan stok BBM yang lama.
“BBM sekarang sudah susah, ini saja tinggal stok yang lama jadi harganya Rp. 10 ribu. Yang baru belum ada” ungkap salah satu penjual bensin yang berada di kelurahan Tosa, Kecamatan Tidore Timur Kota Tidore kepulauan, Minggu (10/7).

Bahkan tak hanya itu, akibat kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh pedagang ecer dengan semana-menanya itu sempat terjadi perkelahian antara pedagang dengan pembeli.

Menurut  Ansar Ibrahim, warga Kelurahan Tambula mengaku jika dirinya pernah dipukuli oleh sejumlah warga kelurahan Rum yang diduga adalah penjual bensin karena tidak mau membeli bensin dengan harga per liter senilai Rp. 13 ribu yang mereka jual.

“Waktu itu (hari pertama lebaran) saya pergi jemput teman yang datang dari jawa di rum, tiba-tiba ketika jemputan saya sudah ada dan saya mau balik ke rumah lalu saya mampir di depot bensin yang berada di dekat pelabuhan Rum dengan tujuan membeli bensin, hanya saja harga yang mereka tetapkan itu satu liter Rp. 13 Ribu dan itu terlalu mahal bagi saya, sehingga saya tidak jadi beli,” ucapnya.

Lanjut warga ini, tak lama kemudian sekitar lima orang pemuda yang duduk di sekitar situ kemudian menyerangnya.

Olehnya itu ia berharap agar kedepannya Dinas Perindustrian perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) dapat intens melakukan penertiban terhadap pedagang ecer sehingga mereka tidak asal-asalan menetapkan harga yang sesuai dengan keinginan mereka.
Selain itu terdapat pengakuan lainnya jika dalam beberapa hari ini banyak pedagang ecer yang menaikan harga BBM per liter senilai Rp. 15 Ribu bahkan sampai Rp. 20 Ribu, kenaikan harga BBM tersebut membuktikan bahwa lemahnya Disperindakop tikep dalam melakukan pengawasan.

“Harga BBM ada yang naik sampai Rp. 20 Ribu per liter, tetapi pemerintah hanya diam. Padahal, kami berharap pemerintah bisa tegas dalam masalah ini agar setiap menjelang lebaran itu masyarakat tidak disulitkan hanya karena BBM”. Imbuh Asmiran salah satu mahasiswi STIMIK Tidore Mandiri.
Laporan: Ute

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.