Saat Toraja disebut Sebagai Laboratorium Kerukunan

oleh -178 views

Indotimnews– – “Pelangi tampak indah dan kemilau karena perpaduan aneka ragam warna, Kain tenun tampak indah karena sulaman dan rajutan berbagai warna benang”.

Demikian Drs.H.Abdul Wahid Tahir,M.Ag mengutip quote dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ketika tampil membawakan kata sambutan pada acara Temu Tokoh Lintas Agama dan Ramah Tamah HAB Ke-71 di Rumah Jabatan Bupati Tana Toraja, Juma’t (27/01/2017).

Lebih lanjut Ka.Kanwil Kemenag Sulsel itu menyatakan bahwa “Pluralitas dan heterogenitas adalah sebuah keniscayaan di alam demokrasi dan Bhineka Tunggal Ika adalah perwujudan dan keberagaman Itu. Walau kita berbeda-beda tetapi tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wahid Tahrir memuji dan memberi apresiasi setinggi-tinghinya kepada Pemda Tana Toraja dibawah kepemimpinan Bupati Ir.Nicodemus Biringkanae, dimana Pak Nico mau menerima dan dapat bersinergi dengan Kantor Kementerian Agama walau secara kelembagaan, institusi ini adalah instansi vertikal.

“Saya bangga dan terharu, di Kabupaten yang penduduknya mayoritas Kristen ini, termyata umat muslim juga diberi ruang dan tempat yang sama bagi pemeluk agama Kristen yang mayoritas di Toraja, sehingga sangatlah Wajar jikalau Tana Toraja ini disebut sebagai laboratorium kerukunan antar umat beragama, oleh karena penduduknya yang berbeda suku dan agama tetapi tetap bisa hidup rukun berdampingan serta saling menghargai dalam kebebasan menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan. Ini sungguh luar biasa”, puji pak Ka.Kanwil.

“Hadirnya Kantor Kementerian Agama di daerah-daerah tupoksinya tidak lain adalah untuk membantu Pemerintah Daerah dalam bidang keagamaan, olehnya itu koordinasi dan sinergitas oleh kedua lembaaga ini sangat dibutuhkan demi terciptanya keamanan,kedamaian,kesejahteraan serta untuk memberi jaminan atas pendidikan agama dan kualitas beribadah masyarakat Toraja khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya”, terang Wahid Tahir menutup sambutannya.

Laporan: Humas Kemenag Sulsel

loading...
loading...