Seuntai Kalimat Teramu Dalam Bingkai Surat Sang Aktivis “Jack” Di Balik Jeruji Besi Untuk Rakyat di Bumi Pertiwi ini

oleh -320 views

IMG_20141120_224151Makassar– Hasri Jack, sosok aktivis yang dikenal pantang menyerah dalam membangun pergerakan kemahasiswaan mendampingi dan mewakili rakyat yang terpuruk akibat kebijakan sang penguasa tak pro rakyat.

Kini ia harus mendekam di balik terali besi Kepolisian Daerah TPolda) Sulsel, akibat mengobarkan api perjuangan menentang kebijakan pemerintah yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

Sebab itu tokoh pergerakan kemahasiswaan inipun menyempatkan diri menorehkan kalimat yang dirangkai dalam surat yang ditujukan untuk rakyat di bumi pertiwi ini yang diterima redaksi indotimnews.com, Kamis (20/11/2014).

Ini isi surat tersebut:

Yang terhormat seluruh Rakyat Indonesia dimanapun berada.

Assalamu Alaikum Warah Matullahi .Wabarakatu

Ijinkan kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegagalan kami, dalam berjuang, tertanggal 18 November 2014, berkisar pukul 02.00 Wita.

Menjelang subuh, kami menyaksikan di layar kaca bahwa pemerintah telah resmi meniakkan harga BBM (Premium &Solar), yang tentunya akan berimbas pada kenaikan harga Sembako dan lainnnya.

Kabar tentang kenaikan harga BBM pastilah membuat kita terkejut, apalagi ditetapkan dimalam hari diwaktu kita harusnya tertidur lelap beristirahat untuk persiapan esok hari berjuang bertahan hidup.

Ditengah keterpurukan ekonomi kita harus dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa hidup kedepan akan butuh biaya hidup yang lebih mahal lagi dari sebelumnya.

Rakyat Indonesia yang kami cintai…!

Kami (Mahasiswa) telah berusaha dan berupaya semaksimal mungkin sebisa yang kami lakukan dalam menolak penetapan kebijakan tersebut.

Namun apa daya kami harus mengakui bahwa kami gagal membendung gelombang paksaan keputusan pemerintah. Hampir seluruh cara telah dan kekuatan kami kerahkan dalam menolak kebijakan itu.

Rakyat Indonesia yang kami cintai…!

jinkan sekali lagi kami memohon maaf yang tak terhingga.. beberapa minggu ini kami kami berada dijalan menyampaikan protes terhadap pemerintah atas kebijakannya menaikkan harga BBM bukan tanpa alasan melainkan demi kepentingan kita (Rakyat Indonesia) semata, bukan pula sekedar sensasi melainkan aksi nyata yang kami lakukan.

Sebab kami tak tahu harus kemana lagi, dan mendatangi siapa lagi.

Kami Mahasiswa di daerah sangatlah jauh dari sentuhan kekuasaan (Pemangku Kebijakan Tertinggi). Jalanan adalah pilihan terakhir kami, dengan bermodalkan semangat kami berteriak lantang menyampaikan aspirasi rakyat.

Situasi di daerah terkhusus di kota Makassar bahkan tak henti-hentinya mencekam akibat berbagai aksi mahasiswa dibeberapa kampus yang berakhir ricuh.

Tentu hal demikian sangatlah mengganggu aktivitas masyarakat dikota, kami sangat sadar dan paham atas aksi kami yang dinilai kurang santun serta merugikan pengguna jalan.

Namun sekali lagi, tak ada tujuan lain kami selain menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang kami anggap akan jauh merugikan dan menyengsarakan jika dipaksakan untuk disahkan seperti sekarang ini.

Kami juga berpendapat bahwa, lebih baik berkorban beberapa minggu dari pada sengsara selamanya. Mungkin saat ini kami berfikir praktis dan bertindak secara praktis pula, namun semua itu terjadi sebab niat maupun semangat kami yang begitu berapi-api demi membela rakyat yang lemah dan semua kami lakukan karena kami tak sanggung menyaksikan jika rakyat Indonesia harus menjadi budak dinegara sendiri.

Sekali lagi, kami berunjuk rasa di jalan atas panggilan nurani. Kami ingin rakyat Indonesia menjadi Tuan di negeri sendiri, hingga saat ini kami belum dijelaskan oleh pemerintah, mengapa banyak rakyat Indonesia yang terkategorikan miskin ? mengapa masih ada yang kelaparan, masih banyak yang tak mampu sekolah ? masih banyak yang tak bisa berobat ke Rumah Sakit, masih banyak yang tak bisa buat rumah, masih banyak yang tak bisa mendapat pekerjaan,

Sementara kita hidup di Republik yang kaya raya, mengapa pemerintah tak bisa mewujudkan semangat pasal 33 UUD 1945.

Kami di jalan adalah akibat yang tentu punya sebab. Bahkan kami sedikitpun tak memikirkan lagi jiwa raga kami dari ancaman yang bisa datang kapan saja sebab kami telah bersumpah atas nama rakyat dan atas nama kebenaran, kami telah siap dengan segala konsekuensi apapun, kami terluka, tertembak dan tertangkap adalah semata bentuk penghormatan dalam berjuang demi Rakyat.

Kami mahasiswa dan aparat kepolisian sama-sama menjalankan tugas, kepolisian menjalankan tugas Negara dan kami menjalankan tugas demi Rakyat.

Kesalapahaman dan reaksi spontan dilapangan adalah hal yang biasa terjadi, apalagi ditengah menjelang/setelah putusan yang membuat semua pihak gelisah yang terkadang membuat tindakan tak terhormat.

Hal yang pasti dapat untuk disikapi secara bijak dan biasa, yang sulit dibiasakan adalah kesiapan rakyat dalam menghadapi keputusan kenaikan harga BBM.

Tentu kebiasaan sebelumnya akan berubah drastis menjadi luar biasa.

Sekian. Saya, Hasri Jack (Pembina Gerakan Aktifis Mahasiswa) Dari Balik jeruji Polda Sulsel

Editor: Zulkifli

loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.