Home / HUKRIM / Terkait Penetapan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Kaltim Jadi pergunjingan. Ini Kata Dua Putri Terbaik Daerah itu!
Kiri Mantan Kepala Perwakilan ORI Kaltim Syarifah Rodiah dan Kanan DR. Rahmawati

Terkait Penetapan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Kaltim Jadi pergunjingan. Ini Kata Dua Putri Terbaik Daerah itu!

SAMARINDA– Peserta tes Kepala Perwakilan Ombudsman RI (Kaper ORI), DR. Rahmawati, angkat bicara soal dugaan ketimpangan penetapan Kaper ORI Kaltim pasca pengumuman melelui Website resmi Ombudsman RI.

“Bicara setelah semalam melihat hasil rapat pleno pansel Kepala Perwakilan Ombudsman RI diumumkan di web resmi. Saya kaget, terharu dan sedih karena kepercayaan untuk membela kebenaran dan keadilan untuk masyarakat Kaltim terkait dugaan maladministrasi sesuai fungsi ORI itu sendiri me jadi pupus,” ucap Rahmawati, Rabu (6/6/18).

Wamita asli Kaltim ini memgau, menerima dengan legowo atas penetapan tersebut, namun ia sesalkan andaikan tahu sejak awal ORI lembaga negara yang kredinilktasnya diragukan dalam pengrekrutan seperti ini, tidak akan memdaftar dengan alasan hanya buang waktu, tenaga dan biaya saja.

“Selama proses daftar tidak tahu apa-apa soal internal ORI, setelah lulus berkas saja ia sempat bertemu dengan salah satu teman dan bercerita bahwa akan percuma daftar, paling yang akan jadi adalah yang sudah ditentukan dari Pusat bahasanya permainan saja nanti ujungnya dan itu terbukti,” jelasnya.

Semula ia tidak percaya omongan teman tersebut. Tetapi setelah melalui tahap seleksi demi tahap memang selalu ada saja kejanggalan dan tanda-tanda ada upaya dugaan permainan.

“Sangat terasa saat gugurnya peserta lain di tes tulis yang semula tidak ada penentuan pendapat masyarakat, tiba-tiba hasil tes tertuang dalam pengumuman dengan menambahkan adanya pendapat masyarakat. Yang mendaftar berapa dan karena apa, oleh pendapat masyarakat yg mana, berapa nilai murni uji tulisnya juga tidak terpublis secara transparan,” tambah Rahmawati.

Dijelaskan saat tes wawancara pun parah lagi karena yang mewawancara ada 5 asisten dan setelah itu diruangan dua orang pewawancara komisioner Andrianus M dan Plt Ali Wardana yang konon Plt ini diduga pentolan pengkudeta Kaper yang lama yang pernah di beri Surat Peringatan (SP) oleh Kaper terdahulu.

“Saya yakin dukungan terhadap puteri Kaltim atau orang daerah sendiri banyak mengalir. Namun mengapa pada hasil pengumuman justru terkesan pendapat masyarakat tidak dipakai lagi. Malah panitia cepat rapat pleno pada hari Senin 4 Juni 2018 dan langsung mengumumkan ke publik melalui web resmi ORI. Dan kemudian besoknya atau malam me dapat info pelantikan akan dilaksanakan di Bogor,” tambahnya.

Menurut Rahmawati, semua jauh dari jadwal yang sudah ditetapkan. Dugaannyapun menguat tentang indikasi maladministrasi secara terang. Lain yang di tuliskan pada pengumuman lain pula yang dilaksanakan oleh lembaga negara ini.

“Lembaga pengawas maladministrasi yang membuat saya jadi tidak percaya lagi rasannya,” tutur Rahma.

Sesuai jadwal kata Rahmawati, pelantikan harusnya nanti tanggal 25 Juni 201o. Mengapa dipercepat ini masih dalam penyelidikan tim Forum Masyarakat Kaltim Peduli ORI.

Sementara yang diluluskan atas nama Kusharyanto Asisten dari DKI Jakarta secara sudah diduga dikondisikan. Sudah diatur jauh hari.

“Mengapa saya berani katakan. Pengakuan dan perbincangan saat menjalani tes seperti mengatakan mereka ada beberapa asisten yang daftar karena cukup umur dan asisten untuk jadi Kaper untuk menghindari PP maka harus ikut rekrutmen terbuka,” ungkapnya.

Ada tiga tempat yang tadi rencana dia daftar, Jateng, Kepri dan Kaltim. Pilihannya jatuh Kaltim karena tidak ada saingan asisten, berbeda dengan Jateng ada asisten juga. Selama proses seleksi Kusharyanto ini memang selalu percaya diri seolah yakin dialah yang akan jadi kaper.

“Juga pernah saya liat panitia berbincang lama dengannya. Bukan cuma itu pewawancara komisioner saat wawancara selalu seolah berpihak ke dia. Pantasan saja. Apalagi Plt Ali Wardana sudah jelas sebagai sesama asisten kelihatan sangat akrab,” jelas Rahma.

” Luar biasa, pantas saja jika sudah terkondisi. Sama dengan kejadian Kaper lama lengser karena ulah asisten yang menpetisi Kapernya padahal tidak ada hal yang mendasar yang bisa membuat seorang pejabat jika ditempat lain mundur dengan gampangnya,” kilahnya sambil kesal.

“Kejadian dengan diganjalnya saya untuk jadi Kaper Kaltim membuktikan bahwa lagi-lagi dua puteri Kaltim yang basic ilmu, pendidikan, pengalaman kerja dan prestasi yang telah diakui banyak pihak, oleh ORI Pusat tidak dianggap,” tutur Rahma.

Ia berharap, semoga pihak yang peduli dengan kejadian ini bisa mengamati dan mengawal jika memang ada unsur dugaan kongkalikong dan maladminstrasi maka bisa dibawa ke jalur hukum saja.

“Tidak elok lembaga negara sendiri sebagai terduga pelaku maladministrasi,” tegas Rahma.

Lanjut Rahma ada dugaan 9 komisioner itu takut dengan Kusharyanto dan persatuan Asisten, karena mungkin saja ada borok mereka ditangan kusharyanto atau di tangan para asisten pengendali itu.

“Seleksi ini bagi saya terasa main kucing-kucingan untuk memaksakan kehendak, dari penilaian katanya uji tertulis tapi tidak murni uji tulis, mereka sendiri yang tambahkan pendapat masyarakat mereka pula yang abaikan pendapat masyarakat. Ada SOPnya di jadwal seleksi juga ternyata tidak diikuti benar-benar,: ulas Rahma.

Dijelaskan, saat asisten yang ambil bagian dalam wawancara hati ini sudah merasakan kuat sesuatu keberpihakan dan baru kali ini melihat lelang jabatan yang tidak mengindahkan hirarki organisasi. Apalagi sekelas lembaga negara.
Gelagat asisten yang mewawancara juga terkesan agak sinis kepada kami calon Kaper.

Kesempatan berbeda melalui telepon seluler Mantan Kaper ORI Kaltim Syarifah Rodiah, juga sangat menyayangkan kejadian terulang lagi hal dugaan maladministrasi, kali ini pada seleksi Kaper. Jauh berbeda pada zamannya. Hal seperti ini sama sekali tidak ada.

“Yang mewawancara hanya Komisioner dan Kesetjenan kala itu tepatnya ditahun 2015. Ini kan secara psikologis menurunkan wibawa Kaper ada bakal bawahan yang wawancara ini akan jadi bahan tertawaan lembaga lain. Secara simbolik dan Bahasa politik juga sangat terang benderang, kita dipertunjukkan siapa penguasa dan pemimpin yang sebenarnya akan memimpin di ORI Perwakilan Kaltim. BUKAN KAPER TAPI PARA ASISTENNYA,” papar mamtan Kaper ORI Kaltim ini.

Ditambahkan pula, kalau Rahmawati yang tidak terpilih sebagai wakil puteri daerah Kaltim, punya gelar Doktor, lulusan Lemhanas, didukung beberapa LSM Kaltim dan Nasional jelas ini dianggap mereka tidak ada, percuma yang namanya tingkat pendidikan dan pengalaman.

“Harusnya ini menjadi pertimbangan ORI, sebab ini sesuai kehendak mereka yang menambahkan kriteria pertimbangan masyarakat, sudah jelas Bu Rahma didukung berbagai LSM daerah dan Nasional. Kapan lagi orang daerah dapat kepercayaan jikalau Pusat selalu beranggapan daerah tidak bisa,” jelas Syarifah.

Diakui, selama menjabat 2,5 tahun lebih banyak berbuat hal untuk ORI Kaltim dan ini sudah dibuktikan. Hanya saja gerakannya kurang seirama dengan asisten.

“Asisten banyak menahan saya untuk bergerak, secara nyata mereka seringkali menolak kala saya meminta bantuan investigasi, melakukan kegiatan kelembagaan, dan malah berbalik menuduh saya yang tidak mengajak mereka dalam banyak kegiatan yang nyata-nyata saya seperti pengemis saja meminta tolong ke mereka untuk ikut membantu bekerja,” terangnya.

Salah satu contoh asisten ingin jadi pengendali , menurut Suarifah, adalah melarang dan menahan saya bersuara keras di media terhadap kasus-kasus. Asisten selalu memprotes kalau sedikit keras terhadap instansi, mereka juga selalu mencari celah kesalahan untuk dapat melaporkan dengan laporan Kaper suka bertindak sendiri, contoh kasus pencemaran sungai oleh PDAM serta kasus lainnya, mereka juga tidak terima Kaper diwawancara sendiri tanpa mereka, bahkan diawal masa kerja sebagai Kaper saya pernah ditegur mereka karena katanya ada pesan dari satu kepala instansi via mereka/salah satu asisten agar saya jangan bicara keras di media tentang instansi tersebut.

“Mereka kelimpungan saat itu karena suka bicara blak-blakan ke media, makanya di kudeta karena maunya mereka ORI tenggelam dan tidak bicara, entah karena mereka malas bekerja atau mereka punya titipan sendiri untuk menahan laju suara ORI,” ucapnya.

Inipun kalau mereka berhasil dengan duduknya Kusharyanto sebagai Kaper Kaltim, lajutnya, maka cerita akan mereka balik lagi, bika mereka nol prestasi, bahwa mereka tidak bisa maju karena ada yang memburuk-burukkan mereka di luar, sehingga tidak bisa maksimal bekerja, maka kesalahan berbalik mereka lemparkan kepada kita masyarakat yang justru mengkritisi mereka karena cinta kepada Lembaga Negara ini.

“Yang perlu diwaspadai asisten atau Kaper yang baru adalah kita mengkhawatirkan adanya dugaan mereka punya perjanjian tertentu dengan instansi atau pihak-pihak tertentu, kalau berprasangka jelek bisa saja kita juga menduga ada pihak di Pusat yang mau dapat jatah atau asisten yang memang malas kerja, karena buktinya di era saya sebagai Kaper ORI Kaltim selalu bersuara berani, banyak laporan masalah yang lebih besar yang perlu diinvestigasi tetapi mereka tidak mau melakukannya, sebaliknya mereka dengan senang dan bangga lebih memilih melakukan investigasi terkait nasi kotakan saat skripsi,” tegasnya.

“Perlu diingat Kaper sebelumnya alm Chandra bahwa sudah jelas orang luar daerah, cuma saya yang putri daerah,” tandas Syarifah.

“Mari buktikan saja, apa ada sedikitpun kekayaan saya selaku Kaper saat itu bertambah selama 2,5 tahun masuk ORI Kaltim, yang ada selama di ORI mobil ada dua satu terjual, uang pensiun hari tua pun terpakai karena di ORI gaji masih 5,7 juta ditambah tunjangan transport dan kesehatan yang tidak seberapa. Semua semata-mata karena Allah SWT, saya ingin membantu masyarakat, mengabdi pada rakyat dan negara, karena dulu sekolah selalu dapat beasiswa dibiayai rakyat/negara,” tuturnya.

Menurut Syarifah kalau maunya mereka bukan orang daerah, kenapa mereka tidak dari awal saja tulis, orang daerah dilarang melamar karena ini khusus untuk orang luar daerah saja, atau kalau berani langgar saja aturan pemerintah tentang penerimaan pengangkatan Kaper dengan tunjuk langsung saja asisten, jangan membuang uang negara dan uang peserta dengan pembodohan mereka.

” Di awal juga kalau mau ada penilaian berdasarkan pendapat masyarakat lakukan sejak awal, jangan bunyinya ujian tulis tapi angka diambil dari uji tulis ditambah pendapat masyarakat. Ini sudah jelas dugaan diikuti permainan yang memasukan pendapat masyarakat, tetapi ketika diikuti oleh masyarakat dan beberapa LSM dengan rekomendasi, mereka balik badan mengabaikan pendapat masyarakat, seolah Forum Masyarakat Kaltim dan ormas yang mendukung ini semua dianggap makhluk abal abal,” terangnya.

Ia malah menantanh ORI, Kalau mau fair, coba lakukan sidak hari ini juga, siapa sebenarnya yang punya potensi besar pelaku maladministrasi?

“Contoh saja soal ketersediaan petugas pelayanan publik mereka di jam pelayanan, sudah sering pelapor pulang tangan hampa, hanya bisa masukkan laporan tapi tidak bisa bertemu muka dan berkonsultasi dengan petugas layanannya/asisten. Ada yang mau tanya update status laporannya, juga ditemui oleh satpam dan OB saja, asistennya jalan atau menghilang entah kemana,” kata Syarifah.

Diakui, dieranya, itu semua melarang terjadi, harus selalu ada minimal satu asisten yang standby, tapi mereka ternyata punya fikiran kalau sudah ada OB dan Satpam berarti mereka sudah melayani.

“Pertayaannya waktu mereka melakukan survey kepatuhan terhadap UU 25/2009 tentang pelayanan publik pada instansi instansi pemerintah, kok standar itu tidak berlaku, kok hanya mereka yang boleh begitu, dan kalau berani coba kita balik lakukan survey kepatuhan mereka terhadap UU no. 25 ini dengan sidak pada hari ini juga ke ORI Kaltim, pasti nilainya MERAH, karena yang namanya pelayanan mereka tidak memenuhi standar pelayanan tersebut,” tambah Syarifah.

Petugas pelayanan lanjutnya, sering perdatau keluar kantor, jam pelayanan tidak dipenuhi karena suka terlambat masuk kerja, belum lagi ketersediaan standar layanan lainnya.

“Di era saya, bahkan saya memohon kepada Pimpinan/Komisioner meminta mereka dilakukan pembinaan, termasuk sakit hati saya tiap kali harus menandatangani mengetahui/menyetujui Asisten terlambat masuk kerja dengan Alasan Bangun Kesiangan, kantor mana yang pimpinannya setuju agar uang negara tetap dibayar karena mereka memberi izin mereka bangun kesiangan, tidak sekali dua kali tapi seringkali,” paparnya.

Syarifah melanjutkan, penilaian kinerja harus selalu diberikan amat baik, kalau tidak jadilah saya bulan bulanan dilaporkan ke kantor pusat, dituduh mengancam menurunkan penilaian kinerja mereka. Deujung kuku pun saya dianggap tidak punya hak menurunkan penilaian kinwrja mereka dari amat baik, padahal disana masih ada kriteria Baik, dan Sedang.

Kriteria apa yang pantas diberikan untuk asisten yang menurut Peraturan seharusnya membantu kepala Perwakilannya bekerja, tapi malah seringkali menolak, dengan berbagai alasan,” tukasnya.

“Saya sebenarnya sudah lama memutuskan ikhlas, saya menganggap adalah keberuntungan buat saya terlepas dari kezholiman mereka, tetapi hati saya ikut merasa pedih ketika seorang Putri Daerah yang memiliki kualifikasi begitu baik, seorang Doktor mempunyai se-abrek gelar dan prestasi, pun didukung berbagai ormas masyarakat, mereka lecehkan semua pendapat masyarakatnya demi orang dalam mereka yang lulusan S1 dan tidak jelas prestasinya apa,” tegasnya.

“Sebelumnya saya berfikir mungkin mengalami dizholimi ini hanya nasib saya saja, sehingga saat rekomendasi dikirimkan saya ikut senang jika Tahmawati akan memimpin ORI Kaltim dan sepenuh hati mendoakan beliau akan berhasil dan tidak bernasib seperti saya,” tutur Syarifah.

Mantan Kaper ORI jadi terkejut setelah dihubungi dan mendengar dari beliau tentang apa yang menimpa Rahma ini. Sebagai catatannys sampai dengan sekarang, sama sekali belum pernah bertemu, dan belum kenal Rahmah sebelumnya. (*)

loading...