UMI Gelar I-CHEDEPY, bahas Solusi Kesehatan di Negara Maju

oleh -29 views

MAKASSAR– Ilmu kesehatan saat ini sangat maju dan berkembang, sama dengan bidang lainnya. Dari tiap masa, ilmu kesehatan selalu mengalami perkembangan.

Revolusi Industri 4.0 terjadi pada tingkat global dan akan mempengaruhi, serta dibentuk oleh, hampir semua Negara, termasuk Indonesia dan Negara berkembang. Revolusi Industri 4.0 dikenal sebagai Revolusi Digital, yang ditandai oleh proliferasi computer.

Karena itu, rencana pelaksanaan 1 st International Conference on Health Sciences in Developing Country (I-CHEDEPY) yang diusulkan Program Magister Kesehatan Pasacasarjana Universitas Muslim Indonesia,.

Hal ini disampaikan Rektor UMI, Prof.Dr. H. Basri Modding,SE.,MSi., didampingi Wakil Rektor V Bidang kerjasama dan promosi, Prof.Dr. Ir. H. Hatta Fattah, MS., saat menerima kunjungan panitia 1 st International Conference on Health Sciences in Developing Country yang dipimpin Dr. Arman, M.Kes bersama tim di Menara UMI lt 9, Senin (15/4).

“Saya berharap international cenfernce yang rencana digelar November 2019, menghasilkan informasi baru dan temuan baru pada aspek kesehatan dikaitkan dengan Revolusi Industri 4.0,” terang Basri Modding.

Sementara itu, Ketua Tim 1 st International Conference yang juga ketua Program Studi Magister Kesehatan PPs UMI, menyampaikan bahwa kegiatan yang rencana digelar 23-24 November 2019 ini bertujuan membangun system kesehatan yang kuat dan sustainable dalam menghadapi masalah kesehatan di Negara berkembang.

Selain itu untuk memperoleh solusi atas masalaha kesehatan utamanya pada penyakit menular dna penyakit tidak menular dan kebijakan strategis yang mendukung pemerataan dan pelayanaan kesehatan dan akses.

Bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan, selain seminar international yang diikuti 250 peserta yang berasal dari Negara berkembang dan Negara maju juga workshop dengan tema Sustainable Innovation to improve health status o Developong Countries dengan misi mendorong hasil riste kesehatan menjadi implementasi kebijakan public.

“Ini menjadi wadah untuk mendiskusikan masalah kesehatan di Negara-negara berkembang dan wadah interpersonal dan multidicipliner collaboration research di Negara berkembang,” ujar Arman. (*)